Kamis, 09 Februari 2012

MENSKOR DAN MENILAI


TUGAS KELOMPOK
EVALUASI HASIL BELAJAR FISIKA
Menskor Dan Menilai





Disusun Oleh:
Sri Wahyu Widyaningsih (A1E007012)
Dwi Handayani (A1E007003)
Putri Rahayuningsih (A1E007028)
Meyriana Raja Guk Guk (A1E007009)



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN FISIKA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS BENGKULU
2009

MENSEKOR DAN MENILAI
1.      MENSEKOR
Sementara orang berpendapat bahwa bagian yang paling penting dari pekerjaan pengukuran dengan tes adalah penyusunan tes. Jika alat tesnya sudah disusun sebak-baiknya maka anggapan sudah tercapainya sebagia besar dari maksudnya. Tentu sajaanggapan itu tidak benar sama sekali. Penyusnan es baru merupakan satu bagian dari serentetan pekerjaan mengetes.
Di samping penyusunsn dan pelasksanaan tes itu sendir, mensekor dan menilai merupakan pekerjaan yang menuntut ketekunan yang luar biasa dari penilai, ditambah dengan kebijaksanaan-kebijaksanaan tertentu. Nama lain dari menkor adalah member angka.
Dalam ha pekerjaan mensekor atau menentukan angka, dapat digunakan 3 macam alat bantu yaitu:
1)        Pembantu menentukan jawaban yang benar, di sebut kunci jawaban.
2)        Pembantu penyeleksi jawaban yang benar dan yang salah, disebut kunci scoring.
3)        Pembantu menentukan angka, disebut pedoman penilaian.
Keterangan dan penggunaannya dalam berbagai bentuk tes.
a.         Kunci jawaban dan kunci pemberian skor untuk tes bentuk betul-salah.
Untuk tes bentuk betul salah (true-false) yang di maksud dengan kunci jawaban adalah deretan jawaban yang kita persiapkan untuk pertanyaan atau soal-soal yang kita susun, sedangkan kunci scoring adalah alat yang kita gunakan untuk mempercepat pekerjaan menskoring.
Oleh karena dalam hal ini testee (tercoba) hanya diminta melingkari huruf B atau S maka kunci jaaban yang di sediakan hanya berbentuk urutan nomor serta huruf di mana kita menghendaki untuk melingkari (atau dapat juga di beri tanda X).

6.        S
7.        B
8.        S
9.        S
10.    B

 
Misalnya:
1.        B
2.        S
3.        S
4.        B
5.        B
Dan seterusnya.
Ada baiknya kunci jawaban ini ditentukan terlebih dahulu sebelum menyusun soal agar.
Pertama         : dapat diketahui imbangan antara jawaban B dan S.
Kedua           : dapat diketahui letak ataupola jawaban B dan S.
Bentuk jawaban benar salah sebaiknya disusun sedemikian rupa sehingga jmlah jawaban B hamper sama banyaknya dengan jawaban S, dan tidak dapat ditebak karena tidak diketahui pola jawabannya.
Kunci jawaban untuk tes bentuk ini dapat diganti kunci scoring (scoring-key) yang pembuatannya melalui langkah-langkah sebaga berikut:
Langkah 1:
Menentukan letak jawaban yang betul
6.        B  -  S
7.        B  -  S
8.        B  -  S
9.        B  -  S
10.    B   S

 
Misalnya:
1.        B  -  S
2.        B  -  S
3.        B  -  S
4.        B  -  S
5.        B  -  S

Langkah 2:
Melubangi tempat-tempat lingkaran sedemikian rupa sehingga lingkaran yang dibuat oleh testee dapat dilihat.
6.        B  -  S
7.        B  -  S
8.        B  -  S
9.        B  -  S
10.    B    S

 
Misalnya:
1.        B  -  S
2.        B  -  S
3.        B  -  S
4.        B  -  S
5.        B  -  S
Catatan.
Dengan pengalaman ini dapat diketahui bahwa lubang yang terlalu kecil berakibat tertutupnya jawaban testeee, sedangkan lubang yang terlalu besar akan saling memotong.
Oleh karena itu, cara menjawab dengan member tanda silang akan lebih baik dari pada melingkari. Dengan demikian maka tanda yang dibuat testee akan tampak jelas seperti terlihat pada contoh betikut.
Misalnya:
1.      B - S
2.      B - S
3.      B - S
4.      B - S
5.      B – S
Dalam keadaan jawaban seperti ini maka testee enjawab tepat pada 3 soal.
Dalam menentukan angka (skor) untuk bentu B – S ini kita dapat menggunakan 2 cara seperti telah disinggung di depan yaitu:

a)        Tanpa hukuman atau tanpa denda.
Tanpa hukuman adalah apabila banyaknya angka yang diperoleh siswa sebanyak jawaban yang cocok dengan kunci.
b)     Dengan hukuman atau dengan denda.
Dengan hukuman (karena diragukan adanya unsure tebakan), digunakan 2 macam rumus, tetapi hasilnya sama.
Rounded Rectangle:    S = R – WPertama, dengan rumus:

Singkatan dari:
S = score
R = right
W = Wrong
Skor yang diperoleh siswa sebanyak jumlah soal yang benar dikurangi dengan jumlah soal yang salah.
Contoh:
-            Banyak soal            = 10 buah
-            Yang betul             = 8 buah
-            Yang salah              = 2 buah
Angkanya adalah : 8 – 2 = 6
Rounded Rectangle:    S = T – 2WKedua dengan rumus:

T singkatan dati Total, artinya jumlah soal dalam tes.

Contoh diatas dihitung.
-            Banyaknya soal       = 10 buah
-            Yang salah              = 2 buah
Angkanya adalah : 10 – (2x2) = 10 – 4 = 6
b.        Kunci jawaban dan kunci pemberian skor untuk tes bentuk pilihan ganda (multiple choice)
Dengan tes bentuk pilihan ganda, testee diminta melingkari salah satu huruf di depan pilihan jawaban yang disediakan atau membubuhkan tanda lingkaran atau tanda  silang (X) pada tempat yang sesuai dile mbar jawaban.
6.        S
7.        B
8.        S
9.        S
10.    B

 
Untk cara menjawab yang pertama, kita gunakan kunci jawaban misalnya sebagai berikut:
1.        C
2.        A
3.        B
4.        B
5.        A
Dalam hal menentukan kunci jawaban untuk bentuk ini langkahnya sama dengan soal bentuk betul salah. Hanya untuk soal yang jumlah nya lebih dari 30 buah, sebaiknya mneggunakan lembar jawaban dan nomor-nomor urutannya dibuat sedemikian rupa sehingga tidak memakan tempat.





11.         a  b  c  d
12.         a  b  c  d
13.         a  b  c  d
14.         a  b  c  d
15.         a  b  c  d
16.         a  b  c  d
17.         a  b  c  d
18.         a  b  c  d
19.         a  b  c  d
20.         a  b  c  d

 
Kunci pemberian skor untuk lembar jawaban misalnya sebagai berikut:
1.        a  b  c  d
2.        a  b  c  d
3.        a  b  c  d
4.        a  b  c  d
5.        a  b  c  d
6.        a  b  c  d
7.        a  b  c  d
8.        a  b  c  d
9.        a  b  c  d
10.    a  b  c  d
Dalam menentukan angka untuk tes bentuk pilihan ganda, dikenal 2 macam cara pula yakni tanpa hukuman dan dengan hukumanb. Tanpa hukuman apabila banyaknya angka dihitung dari banyaknya jawaban yang cocok dengan kunci jawaban.
Rounded Rectangle: S=R ((W))/((n-1) )Dengan hukuman menggunakan rumus:

Di mana
Di mana:
S       =  Score
R       =  Right
W      =  Wrong
n        =  Banyaknya pilihan jawaban
 (yang pada umumnya di Indonesia 3, 4, atau 5)
contoh:
-          Banyak soal                               = 10 buah
-          Banyaknya yang betul   = 8 buah
-          Banyaknya yang salah               = 2 buah
-          Banyaknya pilihan                     = 3 buah
Maka skornya adalah:
c.       Kunci jawaban dan kunci pemberian skor untuk tes bentuk jawaban singkat (short answer test)
         Test bentuk jawaban singkat adalah bentuk tes yang menghendaki jawaban berbentuk kata atau kalimat pendek. Melihat namanya, maka jawaban untuk tes tersebut tidak boleh berbentuk kalimat-kalimat pabnjang, tetapi harus sesingkat mungkin dan mengandung satu pengertian. Dengan persyaratan inilah maka bentuk tes ini dapat digolongkan ke dalam bentuk tes objektif.
Tes dengan bentuk isian, dianggap setaraf denganb tes jawaban singkat ini.
Kunci jawaban tes bentuk ini merupakan deretan jawaban sesuai dengan nomornya.
Contoh:
1.        Berat jenis
2.        Mengembun
3.        Komunitas
4.        Populasi
5.        Energy
Bagaimana kunci pemberian skormya?
Dengan menginga jawaban yang hanya satu pengertian saja, maka angka bagi tiap nomor soal mudah ditebak. Usaha yang dikeluarkan oleh siswa sedikit, tetapi lebih sulit dari pada tes bentuk betul salah atau bentuk pilihan ganda. Sebaiknya setiap soal diberi angka 2 (dua) dapat juga angka itu kita samakan dengan angka pada bentuk betul-salah atau bentuk pilihan ganda jika memang jawaban yang diharapkan ringan dan mudah. Tetapi sebaliknya jika jawabanya bervariasi misalnya lengkap sekali, lengkap dan kurang lengkpa, maka angkanya dapat dibuat bervariasi pula misalnya2; 1, 5; dan 1.
d.      Kunci jawaban dan kunci pemberian skor untuk tes bentuk menjodohkan (matching)
     Pada dasarnya tes bentuk menjodohkan adalah tes bentuk pilihan ganda, di mana jawaban-jawaban dijadikan satu, demikian pua pertanyaan-pertanyaannya. Dengan demikian, maka pilihan jawabannya akan lebih banyak. Satu kesulitan lagi adalah bahwa jawaban yang dipilih dibuat sedemikian rupa sehingga jawaban yang satu tidak diperlukan bagi pertanyaan lan.
     Kunsi jawaban tes bentuk menjodohkan dapat berbentuk deretan jawaban yang dikehendaki atau detretan nomor yang diikuti oleh huruf-huruf yang terdapat di depan alternative jawaban.
Contoh:
1.    Tahun 1922                      1. F
2.    Imam Bonjol                    2. C
3.    Perang padre                    3. H
4.    Teuku Umar                     4. A
5.    P. Diponegoro                  5. B
              Telah dijelaskan bahwa tes bentuk menjodohkan adalah tes bentuk pilihan ganda yang lebih kompleks. Maka angka yang diberikan sebagai imbalan juga harus lebih banyak. Sebagai ancar-ancar dapat ditentukan bahwa angka untuk setiap nomor adalah 2 (dua)
e.       Kunci jawaban dan kunci pemberian skor untuk tes bentuk uraian (essay test)
              Sebelum menyusun sebuah test uraian sebaiknya kita tentukan terlebih dahulu pokok-[pokok jawaban yang kita kehendaki, dengan demikian, maka akan mempermudah kita dalam pekerjaanmengoreksi tes itu.
              Tidak ada jawaban yang pastiterhadap tes bentuk uraian ini. Jawaban yang akan kita peroleh akan sangat beraneka ragam, berada dari siswa satu ke siswa lain. Untuk menentukan standar lebih dahulu, tentulah sukar. Ada sebuah saran, langkah-langkah apa yang harus kita lakukan pada waktu kitamengoreksi dan member angka tes bentuk uraian. Saran tersebut adalah sebagai berikut.
1)           Membaca soal pertama dari seluruh siswa untuk mengetahui situasi jawaban. Dengan membaca seluruh jawaban, kita dapat memperoleh gambaran lengkap tidaknya jawaban yang diberikasiswa secara keseluruhan/
2)           Menentukan angka untuk soal pertama tersebut. Misalnya jika jawabannya lengkapdiberi angka 5, kurang sedikit diberi angka 4begitu seterusnya sampai pada jawaban yang paling minim jika jawabannya meleset sama sekali. Dalam menentukan angka pada hal yang terakhir ini umumnya kita perlu berfikir bahwa tidak ada unsurtebakan. Dengan demikian maka ada dua pendapat, satu pendapat menentukan angka 1 atau 2 bagi jawaban yang salah, tetapi angka lain menentukan angka 0 untuk jawaban itu. Tentu saja bagi jawaban yang kosongdiberi angka 0.
3)           Memberikan angjka bagi soal pertama.
4)           Membaca soal kedua dari seluruh siswa untuk mengetahui situasi jawaban, dilanjutkan dengan pemberian angka untuk soal kedua.
5)           Mengulang langkah-langkah tersebut bagi soal-soal tes ketiga, keempat dan seterusnya hingga seluruh soal diberi angka.
6)           Menjumlahkan angka-angka yang diperoleh oleh masing-masing siswa untuktes bentu uraian.
Setelah mempelajari langkah-langkah tersebut kita tahu bahwa dengan membaca terlebih dahulu seluruh jawaban yang diberikan oleh siswa, kita menjadi tahu bahwa mungkin tidak ada seorangpun dari siswa yang menjawab dengan betul untuk suatu nomor soal.
              Menghadapi situasi seperti ini, kita gunakan cara pemberian angka yang relative. Misalnya untuk sesuatu nomor soal jawaban yang paling lengkap hanya mengandung 3 unsur, padahal kita menghendaki 5 unsur, maka kepada jawaban yang paling lengkap itulah kita berikan angka 5, sedangkan untuk yang mnjawab hanya 2 dan 1 unsur, kita beri angka lebih sedikit, yaitu misalnya 3,5; 2; 1,5; dan seterusnya.
              Dengan cara ini maka pemberian angka pada tes bentuk uraian tidak akan dapat konsisten atau tetap dari kelas ke kelas atau dari tahun ke tahun.
              Apa yang telah diterangkan di atas ini adalah cara pemberian angka dengan menggunakan atau mendasarka pada norma kelompok (norm referenced test). Apabila dalam memberikan angka menggunakan atau mendasarkan pada standar mutlak (criterion referenced test), maka langkah-lagkahakan lain. Apa yang dilalui di atas, tidak diperlukan.

Yang dilakukan haruslah demikian:
1)        Membaca setiap jawaban yang memberikan oleh siswa dan dibandingkan dengan kunci jawaban yang telah kita susun.
2)        Membubuhkan skor di sebelah kiri setiap jawaban ini lakukan per nomor soal.
3)         Memjumlahkan skor-skor yang telah di tuliskan pada setiap soal, dan terdapatlah skor untuk bagian soal yang terbentuk uraian.
Dengan cara kedua ini maka skor siswa tidak dibandingkan dengan jawaban paling lengkap yang diberikan oleh sswa lain, tetapi dibandingkan dengan jawaban lengkap yang dikehendaki dan sudah ditentukan guru. Tentang masalah norm-referenced dan criterion-referenced ini, akan diulangi pada pembicaraan di lain bagian.
Jumlah skor dari butir-butir soal uraian tidak harus dalam bentuk bilangan baik juga. Namun apabila kita berkeinginan untuk menjadikan bilangan baik tidaklah terlalu salah. Andaikata kita membuat 5 butir soal untuk bentuk uraian, dapat saja.
Adakalanya kita dituntut untuk memberikan nilai terhadap prestasi belajar siswa tanpa memberikan skor terlebih dahulu. Misalnya pada waktu ujian lisan. Apabila nilai ujian diberikan terhadap setiap butir pertanyaan, cukuplah memadai. Bahaya yang mengancam kita adalah masuknya unsure subjekjtivitas dalam diri kita sehingga kita sering kali melakukan hal-hal di luar keadilan. Kemungkinanya adalah apabila kita hanya member nilai satu kali, yakni pada akhir ujian.
Salah satu kesulitan lain yang dulu sering dilakukan oleh dosen adalah dalam menilai ujian skripsi. Dalam salah satu kejadian seorang dosen berkali-kali menunjukkan kepuasannya terhadap skripsi dan cara mempertahankan seorang mahasiswa. Anehnya pada waktu diminta oleh Ketua Dewan Penguji berapa nilai yang diberikan, dengan sangat tenang mengatakan “C saja”. Pengji lain menanyakan apa sebab hanya C, dijawab bahwa walaupun semua sudah baik, tetapi belum sempurna. C adalah nilai cukup. Menurut dosen tersebut, jika sempurna barulah A, dan sedikit di bawah sempurna nilainya B. susahnya adalah criteria untuk mengukur tingkat kesempurnaan yang dimaksud. Barangkali yang di anggap sempurna oleh dosen adalah apabila sudah sama dengan yang ia bayangkan (mungkin juga ia sendiri tidak dapat mencapa yang sempurna itu).
Untuk mengurangi masuknya unsure subjektifitas dalam penilaian seperti itu, kita dapat menentukan sendiri aspek-aspek yang menjadi bagian dari penilaian. Misalnya untuk penilaian ujian skiripsi:
a.       Mutu skripsiyang tersusun, meliputi unsure metodologi dan pembahasan teoritik.
b.      Cara dan kemampuan mempertahankan kebenaran pendapatnya.
c.       Luasnya materi pendukung yang digunakan untuk menjawab.
d.      (untk membimbing) kemadirian dan kelancaran dalam konsultasi.
Untuk masing-masing aspek dapat ditentukan berapa nilainya, kemudian dijumlah dan ditentukan nilai akhir. Dalam menentukan nilai akhir, dosen dapat juga memberikan bobot yang berbeda pada masing-masing aspek, salkan dengan argumentasi yang cukup kuat.
Dalam menentukan nilai terhadap tisp-tiapaspek ini pun kita dituntut untk memberikan pertimbangan yang didasari oleh kebijaksanaan. Sebenarnya kita dapat mengambil salah satu dai dua cara di bawah ini yaitu:
a.       Bertitik tolak dari batas bawah, yaitu berfikir dari pekerjaan yang paling jelek diberi nila berapa, kemudian membandingkan hasil pekerjaan yang kita hadapi dengan nilai batas bawah tersebut. Dari batas bawah ini kita memberikan tambahan nilai sebanyak jarak antara nilai batas bawah dengan pekerjaan mahasiswa. Jadi kita berangkat dari bawah, lalu naik-naik. Menurut pengalaman, pemberian nilai dengan cara ini cenderung menghasilkan nilai rendah.
b.      Bertitik tolak dari plafon atau batas atas. Dengan cara ini kita berfikir mengenai kesempurnaan pekerjaan tetapi di ukur menerut ukuran mahasiswa, bukan diukur dengan kemampuan dosen ata ahli-ahli yang kita kagumi. Selanjutnya berangkat dari nilai batas atas tersebut kita kurangkan sedikit-sedikit sejauh kesenjangan antara nilai batas dengan oekerjaan mahasiswa yang kita hadapi. Jadi kita berangkat dari atas kemudian turun-turun. Menurut pengalaan, pemberian nilai dengan cara ini cenderung menghasilkan nilai yang tinggi.
Cara-cara ini dapat juga kita terapkan untuk pekerjaan kita menilai tugas-tugas atau apa saja yang sifatnya relative, yang kebayankan berupa unjuk kerja atau penampilan (performance).
Satu lagi hal yang harus diperhatikan adalah tepatnya waktu penyerahan nilai. Untuk concoh ujian skripsi diatas, sebaiknya para penguji segera menyerahka nilai terperinci kepada Ketua Panitia Penguji sesudah gilirannya habis untk menguji. Hal ini perlu agar penguji tersebut nilainya masih murni, tidak dipengaruhi oleh kemampuan mahasiswa waktu di uji oleh penguji lain.
e.       Kunci jawaban dan kunci pemberian skor untk tugas
Kunci jawaban untuk memeriksa tugas merupakan pokok-pokok yang harus termuat di dalam pekerjaan siswa. Hal ini menyangkut criteria tentang isi tugas. Namun sebagai kelengkapan dalam pemberian skor, digunakan suatu tolak ukur tertentu.


Tolak ukur yang disaranka dalam buku ini sebagai ukuran keberhasilan tugas adalah:
1)      Ketepatan waktu penyerahan tugas.
2)      Bentuk fisik pengerjaan tugas yang menandakan keseriusan mahasiswa dalam mengerjakan tugas.
3)      Sistematika yang menunjukkan alur keruntutan pikiran.
4)      Kelengkapan isi menyangkut ketuntasan penyelesaian dan kepadatan isi.
5)      Mutu hasil tugas, yaitu kesesuaian hasil dengan garis-garis yang sudah ditentukan oleh dosen.
Dalam mempertimbangkan nilai akhir perlu dipikirkan peranan masing-masing aspek criteria tersebut, misalnya demikian:
A1 – ketepatan waktu, di beri bobot 2
A2 – bentuk fisik, di beri bobot 1
A3 – sistematika, di beri bobot 3
A4 – kelengkapan isi, di beri bobot 3
A5 – mutu hasil, di beri bobot 3
Maka nilai akhir untuk tugas tersebut diberikan dengan rumus:
NAT adalah Nilai Akhir Tugas




2.      Perbedaan Antara Skor dan Nilai
Apa yang terjadi selama ini, banyak di antara para guru sendiri yang masih mencampur adukkan antara dua pengertian yaitu skor dan nilai.
Skor         : adalah hasil pekerjaan menskor yang diperoleh dengan menjumlahkan angka-angka bagi setiap soal tes yang dijawab betul oleh siswa.
Nilai       : adalah angka ubahan dari skor dengan menggunaan acuan tertentu, yakni acuan normal atau acuan standar.
Pengubahan skor menjadi nilai akan di bicarakan pada bab 15. Pengubahan skor menjadi nilai dapat dilakukan pada skor tunggal, misalnya sesudah memperoleh skor ulagan harian atau untuk skor gabungandari beberapa ulanga dalam rangka memperoleh nilai akhir untuk rapor.
Sebagai ilustrasi, silahkan membaca keterangan lebih lanjut yang dicontohkan dibah ini. Di dalam tes yang terdapat pada setiap modul, di PPSP selalu dilengkapi dengan kunci dan pedoman scoring. Skor maksimum yang disebutkan tidak selalu tetap. Adakalanya 40, 45, 50, 100, dan sebagainya. Skor maksimum tersebut ditentukan berdasarkan atas banyak serta bobot soal-soal tesnya.
Seorang siswa yang memperoleh skor 40 bagi tes yang menghendaki skor maksimum 40, mempunyai arti bahwa siswa tersebut sudah menguasai 100% dari tujuan instruksional khusus yang dirancangkan oleh guru. Akan tetapi jika skor 40 tersebut diperoleh dari pengerjaan soal tes yang menghendaki skor maksimum 100, maka skor 40 mencerminkan 40% penguasaan tujuan saja.
Dengan demikian maka angka 40 yang diperoleh oleh seorang siswa setelah ia selesai mengikuti sebuah tes, belum berbicara apa-apa sebelum diketahui berapa skor maksimum yang diharapkan jika siswa tersebut dapat mengerjakan dengan sempurna. Angka 40 ini di sebt skor mentah.
Atas dasar itulah maka untuk dapat dicatat sebagai suatu prestasi belajar, guru di wajibkan untuk mengubah skor mentah yang diperoleh langsung dari pengerjaan tes menjadi skor berstandar 100.
Contoh:
Skor maksimum yang diharapkan 40.
A memperoleh skor 24.
Ini berarti bahwa sebenarnya A tersebut hanya menguasai  tujuan instruksional khusus tersebut ata hanya 60% dari tujuan instruksional khusus tersebut.
Dalam daftar nilai, dituliskan A mendapatkan nilai 60.
Jadi disisni tampak perbedaannya:
24 adalah skor
60 adalah nilai.
B memperoleh skor 36.
Ini berarti B menguasai  dari tujuan atau 90% dari tujuan pembelaaran.
Dalam daftar nilai, B dituliska mendapat nilai 90.
Sebelum sampai pada pembiaraan pengubahan skor menjadi nilai secara lebih lanjut, para peserta kami ajak untuk memahami skor yang akan diubah tersebut. Secara rinci skor dapat dibedakan atas tiga macam, yaitu skor yang diperoleh (obtained score), skor sebenarnya (true score), dan skor kesalahan (error score).
Skor yang diperolehadalah sejumlah biji yang dimiliki oleh testee sebagai hasil mengerjakan tes. Kelemahan-kelemahan buir tes, situasi yang tidak mendukung, kecemasan, dan lain-lain factor dapat berakibat terhadap skor yang diperoleh ini. Apabila factor-faktor yang berpengaruh ini muncul, bak sebagian maupun menyeluruh. Penilaian tidak dapat mengira-ngira seberapa cermat skor yang diperoleh siswa ini mampu mnecerminkan pengetahuan dan keterampilan siswa yang sesungguhnya.
Skor sebenarnya(true score) seringkali juga disebut dengan istilah skor univers-skor alam (universe score), adalah nilai hipotesis yang sangat tergantung dari perbedaan individu berkenaan dengan pengetahuan yang dimiliki secara tetap. Sebaga contoh adalah apabila seseorang diminta untuk mengerjakan sebuah tes berulang-ulang, maka rata-rata dari hasil tersebut menggambarka resultante dari variasi hasil yang tidak ajek. Inilah gambarang mengenai skor yang sebenarnya. Akan tetapi di dalam praktek tentu tidak mungkin bahwa penilai minta kepada testee untuk mengerjakan sebuah tes secara berulag-ulang. Gambaran ini hanya untuk menunjukkan contoh saja dala penjelasan pengertian skor sebenarnya.
Perbedaan antara skor yang diperoleh dengan skor sebenarnya, disebut dengan istilah kesalahan dalam pengukuran atau kesalahan skor, atau dibalik skor kesalahan. Hubungan antara ketiga macam skor tersebut adalah sebagai beriut:

3.      Norm-Referenced dan Criterion-Referenced
Dari sederetan skor yang telah di ubah kestandar 100 inilah maa dapat diperoleh gabungannya, misalnya gabungan antara nilai ulangan ke-1, ke-2, ke-3, dan seterusnya, yang merupaka catatan untuk dirata-rata dan menggambarkan penguasaan siswa terhadap materi yang diajarkan, atau menggambarkan sejauh mana siswa mencapai tujuan instruksional umumdari sat unit bahan yang dipelajari dalam satu ukuran waktu. Sebelum ini telah disinggung sedikit tentang penggunaan Norm-Referenced dan Criterion-Referenced. Di dalam penggunaan Criterion-Referenced, siswa dibandingkan dengan sebuah standar tertentu, yang dalam uraian sebelum ini, dibandingkan dengan standar mutlak, yaitu standar 100. Uraian dalam contoh siswa A dan B di atas, siswa juga di bandingkan dengan standar tertentu, yaitu skor maksimum. Penggunaan standar mutlak ini terutama dipertahankan dalam penerapan prinsip belajar tuntas.
Dalam penggunaan Norm-Referenced, prestasi belajar seorang siswa dibandingkan degan siswa lain dalam kelompoknya. Kualitas seseorang sangat dipengaruhi oleh kualitas kelompoknya. Seorang siswa yang apabila terjun ke kelompok A termasuk hebat, mungkin jika pindah ke kelompok lain hanya menduduki kualitas sedang saja. Ukurannya adalah relative. Oleh sebab itu, maka dikatakan pula di ukur dengan standar-relatif. Ukuran demikian juga disebut menggunakan  Norm-Referenced atau norma kelompok.
Dasar pikiran dari penggunaan standar ini adalah adanya asumsi bahwa setiap populasi yang heterogen, tentu terdapat:
1)      Kelompok baik
2)      Kelompok sedang
3)      Kelompok kurang
Di mulai dengan bakat yang di bawa sejak lahir yang dalam hal ini tampak sebagai indeks kecerdasan atau intelegence Quotient (IQ), maka seluruh populas tergambar sebagai sebuah kurva normal. Apabila anak-anak itu belajar, maka prestasi atau hasl belajar yang di akibatkan itupun akan tergambar sebaga kurva normal.









 



Kurva normal intelegence Quotient              Kurva normal prestasi belajar

Penggunaan penilaian dengan norma kelompok atau norma relative ini untuk pertamakali dikemukakan pada tahun 1908 (Cureton 1971), dengan landasan dasar bahwa tingkat pencapaian belajar siswa akan tersebar menurut kurva normal 1. Dengan demikian maka penilaian berdasarka kurva normal merupakan hal yang tidak dapat di bantah lagi.
Apabila standar relative dan standar mutlak ini dihubungkan dengan pengubahan skor menjadi nilai, akan terlihat demikia:
a.      Pemberian standar mutlak
1)      Pemberian skor terhadap siswa, didasarkan atas pencapaian siswa terhadap tujuan yang ditentuka.
2)      Nilai di peroleh dengan mencari skor rata-rata langsung dari skor asal (skor mentah).
Contoh:
-       Dari ulangan ke-1, memperoleh skor 60 (mencapai 60% tujuan)
-       Dari ulangan ke-2, memperoleh skor 80 (mencapai 80% tujuan)
-       Dari ulangan ke-3, memperoleh skor 50 (mencapai 50% tujuan)
Maka nilai siswa tersebut :
Dibulatkan 63.
b.      Dengan standar relative
1)      Skor terhadap siswa juga didasarkan atas pencapaian siswa terhadap tujuan yang di tentukan.
2)      Nilai diperoleh degan 2 cara:
a)   Mengubah skor dari tiap-tiap ulangan lalu di ambil rata-ratanya.
b)   Menjumlah skor tiap-tiap ulangan, baru di ubah ke nilai.
Tentang bagaimana cara mengubah skor menjadi nilai, akan dibicarakan oleh keompok selanjutnya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

.>