Kamis, 09 Februari 2012

Hubungan Manusiawi


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Manusia adalah makhluk social, artinya manusia hanya akan menjadi apa dan siapa bergantung ia bergaul dengan siapa. Manusia tidak bisa hidup sendirian, sebab jika hanya sendirian ia tidak "menjadi" manusia. Dalam pergaulan hidup, manusia menduduki fungsi yang bermacam-macam. Di satu sisi ia menjadi anak buah, tetapi di sisi lain ia adalah pemimpin. Di satu sisi ia adalah ayah atau ibu, tetapi di sisi lain ia adalah anak. Di satu sisi ia adalah kakak, tetapi di sisi lain ia adalah adik. Demikian juga dalam posisi guru dan murid, kawan dan lawan, buruh dan majikan, besar dan kecil, mantu dan mertua dan seterusnya.
 Dalam hubungan antar manusia (interpersonal), ada pemimpin yang sangat dipatuhi dan dihormati rakyatnya, ada juga yang hanya ditakuti bukan dihormati, begitupun guru atau orang tua, ada yang dipatuhi dan dihormati, ada juga orang tua dan guru yang tidak dipatuhi dan tidak pula dihormati.

1.2  Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah pada makalah ini adalah:
1.  Apa pengertian hubungan manusiawi?
2.  Bagaimana teknik hubungan manusiawi?
3.  Bagaimana teknik pendekatan hubungan manusiawi?
4.  Apa saja teori hubungan antar manusiawi?
5.  Apa saja aliran hubungan antar manusiawi?

1.3  Batasan Masalah
Dalam makalah ini dibatasi hanya pada materi yang bersesuaian dengan hubungan manusiawi.

1.4  Tujuan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari makalah ini adalah:
1.Untuk mengetahui pengertian hubungan manusiawi.
2.Untuk mengetahui teknik hubungan manusiawi.
3.Untuk mengetahui teknik pendekatan hubungan manusiawi.
4.Untuk mengetahui teori hubungan antar manusiawi.
5.Untuk mengetahui aliran hubungan antar manusiawi.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1    Pengertian Hubungan Manusiawi
Hubungan manusiawi merupakan terjemahan dari human relation. Adapula yang mengartikan hubungan manusia dan hubungan antar manusia, namun dalam kaitannya hubungan manusia tidak hanya dalam hal berkomunikasi saja, namun didalam pelaksanaannya terkandung nilai nilai kemanusiaan serta unsur-unsur kejiwaan yang amat mendalam. Seperti halnya mengubah sifat, pendapat, atau perilau seseorang.  Jika ditinjau dari sisi ilmu komunikasi hubungan manusia ini termasuk kedalam komunikasi interpersonal, pasalnya komunikasi yang berlangsung antara dua orang atau lebih dan bersifat dialogis. Dikatakan bahwa hubunngan manusiawi itu komunikasi karena sifatnya action oriented, mengandung kegiatan untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku seseorang.
Ada dua pengertian hubungan manusiawi, yakni hubungan manusiawi dalam arti luas dan hubungan manusiawi dalam arti sempit.
a.    Hubungan Manusiawi dalam arti Luas
Hubungan manusiawi dalam arti luas ialah interaksi antara seseorang dengan orang lain dalam segala situasi dan dalam semua bidang kehidupan. Jadi, hubungan manusiawi dilakukan dimana saja: dirumah, di jalan, di dalam bis, dalam kereta api dan sebagainya.
  Berhasilnya seseorang dalam melakukan hubungan manusiawi ialah karena ia bersifat manusiawi: ramah, sopan, hormat, menaruh penghargaan dan lain-lain sikap yang bernilai luhur.
  Bahwa manusia harus bersikap demikian sebenarnya bukanlah hal yang luar biasa, secara kodratiyah, selain homo sapiens sebagai makhluk berfikir yang membedakannya dengan hewan manusia juga merupakan homo socius, makhluk bermasyarakat. Tidak mungkin ia hidup tanpa orang lain. Dan sebagai makhluk sosial ia harus berusaha menciptakan keserasian dan keselarasan dengan lingkungannya.
  Sebagai anggota masyarakat, manusia hidup dalam dua jenis pergaulan yang sebagaimana telah diterangkan di bab terdahulu, oleh Ferdinand Tonnies disebut Gemeinschaft dan gesellschaft. Dalam gemeinschaft seseorang bergaul dalam suatu kehidupan yan sangat akrab, sedemikian akrabnya sehingga penderitaan atau kebahagiaan yang dialami orang lain dirasakan olehnya seperti penderitaan atau kebahagiaannya sendiri. Kehidupan keluarga atau kehidupan berteman yang sangat akrab termasuk ke dalam gemeinschaft.
Ciri lain dari gemeinschaft ialah bahwa seseorang anggota gemeinschaft tidak bisa keluar masuk masyarakat itu menurut kemauannya saja. Seorang ayah, misalnya, walau apapun yang terjadi tetap ayah dari anak-anaknya. Ia tidak bisa membebaskan diri dari status ayah itu. Sifat pergaulan gemeinschaft ialah statis,pribadi, tak rasional. Dikatakan statis karena pergaulan hidup dalam masyarakat demikian tidak mengalami banyak perubahan. Interaksi yang terjadi dalam suatu rumah tangga setiap hari antara ayah, ibu, dan anak tidak mengalami dinamika. Sifatnya pribadi (personal) jika terjadi perselisihan, dapat diselesaikan segera. Tidak rasional maksudnya tidak ada tata cara yang mengatur pergaulannya.
  Lain sekali dengan pergaulan hidup gesellschaft, yakni kehidupan dalam suatu organisasi yang sifatnya dinamis, tidak pribadi, dan rasional. Dinamis artinya hubungannya dengan orang banyak bergantian. Tidak pribadi artinya tidak akrab sehingga jika terjadi benturan psikologis, tidak mudah menyelesaikannya. Rasional artinya ada aturan-aturan ketat yang mengikat. Dalam gesellschaft orang bergaul berdasarkan perhitungan untung rugi. Seseorang baru memasuki pergaulan hidup gesellschaft apabila diperkirakan ada keuntungan baginya. Ia juga bebas masuk dan keluar dari gesellschaft sesuai dengan ada tidaknya pamrih padanya.
  Akan tetapi, pergaulan hidup seperti yang dikemukakan Ferdinand Tonnies itu sebenarnya hanyalah tipe-tipe ideal. Pada kenyataanya tipe-tipe ekstrem 100% tidaklah mutlak ada, yang ada hanyalah tekanan atau titik berat pada salah satu dari jenis pergaulan hidup itu. Artinya: jika titik beratnya rasio,dinamakan gesellschaft; jika titik beratnya perasaan, disebut gemeinschaft. Dalam gesellschaft tujuan pergaulan lebih banyak ditekankan pada keuntungan; dalam gemeinsgaft untuk mendapat hubungan kekeluargaan atau kekerabatan. Kalaupun dalam gemeinschaft ada keuntungan yang dapat diperoleh, keuntungan itu datang dengan sendirinya; dalam gesellschaft datang karena kewajiban yang dipaksakan dari luar. Dalam gemeinschaft kewajiban datang bukan dari luar, melainkan dari dalam diri sendiri. Apapun sifat pergaulan itu, apakah gemeinschaft atau gesellschaft, tujuan hubungan manusiawi adalah pemusatan hati masing-masing yang terlibat dalam kegiatan itu.
  Eduard C. Lindeman dalam bukunya yang terkenal,  The Democratic Way of Life, mengatakan bahwa “ Hubungan manusiawi adalah komunikasi antarpersonal (interpersonal Communication) untuk membuat orang lain mengerti dan menaruh simpati”. Orang akan menaruh simpati jika dirinya dihargai. Dalam hubungan ini William James, seorang ahli ilmu jiwa dari Harvard University, AS, mengatakan bahwa ” tiap manusia dalam hati kecilnya ingin dihargai dan dihormati”.
  Dalam pada itu, Keith Davis mengatakan bahwa human dignity (harga diri) merupakan etika dan dasar moral bagi hubungan manusiawi. Hasil penyelidikan mengenai personal wants (keinginan pribadi) telah menunjukkan bahwa tiap manusia ingin diperlukan sebagai human being (manusia) dengan respect (kehormatan) dan dignity (penghargaan).
  Agar seseorang merasa bahwa dirinya dihargai sebagai layaknya manusia dapat menunjukkan dengan berbagai cara bergantung pada situasi, kondisi, dan tujuan dilakukannya human relations itu.

b.    Hubungan Manusiawi dalam Arti Sempit
  Hubungan manusiawi dalam arti sempit adalah juga interaksi antara seseorang dengan orang lain. Akan tetapi, interaksi disini hanyalah dalam situasi kerja dan dalam organisasi kekaryaan (work organization).
  “Dipandang dari sudut pemimpin yang bertanggung jawab untuk memimpin suatu kelompok, hubungan manusiawi adalah interaksi orang-orang yang menuju satu situasi kerja yang memotivasikan mereka untuk bekerja sama secara produktif dengan perasaan puas, baik ekonomis, psikologis maupun sosial”. Demikian kata Keith Davis dalam bukunya, Human relations at Work. Dikatakan oleh Keith Davis selanjutnya bahwa hubungan manusiawi adalah seni dan ilmu pengetahuan terapan (applied arts and science).
  Jelas bahwa ciri khas hubungan manusiawi adalah interaksi atau komunikasi antar personal yang sifatnya manusiawi. Karena manusia yang berinteraksi itu terdiri atas jasmani dan rohani, yang berakal dan berbudi, yang selain merupakan makhluk pribadi juga makhluk social, maka dalam melakukan hubungan manusiawi kita harus memperhitungkan diri manusia dengan segala kompleksitasnya itu.
  Seperti telah disinggung sebelumnya, dalam organisasi kekaryaan manusia merupakan strategic component karena mempunyai peranan yang sangat penting. Organisasi kekaryaan dewasa ini cenderung menganut filsafat yang people centered, yakni bahwa dalam organisasi kekaryaan manusia bukan pelaksana atau alat produksi belaka, melainkan merupakan faktor pendorong dalam mencapai tujuan.
  Hubungan manusiawi dalam organisasi kekaryaan inilah yang banyak dipelajari, diteliti, dan dipraktekkan di negara-negara yang sudah maju sebab faktor manusia ini sangat berpengaruh pada usaha mencapai tujuan organisasi: dapat memperlancar, dapat juga menghambat. Dengan hubungan manusiawi, para pemimpin organisasi dapat memecahkan masalah yang timbul dalam situasi kerja karena faktor manusia, bahkan selanjutnya dapat menggairahkan dan menggerakkannya ke arah yang lebih produktif.
  Itulah hubungan manusiawi dalam arti luas dan arti sempit yang kedua-duanya perlu dilaksanakan oleh seorang pemimpin organisasi dan kepala humas dalam rangka mencapai tujuan organisasi.

2.2    Teknik Hubungan Manusiawi
Hubungan manusiawi dapat dilakukan untuk menghilangkan hambatan-hambatan komunikasi, meniadakan salah pengertian dan mengembangkan segi konstruktif sifat tabiat manusia. “Demikian kata R.F. Mainer dalam bukunya, Principle of Human Relations.
   Dalam derajat intensitas yang tinggi, hubungan manusiawi dilakukan untuk menyembuhkan orang yang frutasi. Frustasi timbul pada diri seseorang akibat suatu masalah yang tidak dapat dipecahkan olehnya. Dalam kehidupan sehari-hari siapa pun akan menjumpai masalah : ada yang mudah dipecahkan, ada yang sukar. Akan tetapi, masalah bagaimana pun akan diusahkan supaya hilang.  Orang tidak akan membiarkan dirinya digumuli masalah. Dan masalah orang yang satu tidak sama dengan masalah orang lain. Sakit, tidak lulus ujian, lamaran pekerjaan tidak diterima, mobil rusak, istri menyeleweng, anak morfinis, tidak mampu menyelesaikan tugas, permohonan tidak terima dan lain-lain itu semua bisa menyebabkan seseorang frutasi.
   Orang menderita frutasi dapat dilihat dari tingkah lakunya : ada yang merenung murung, lunglai tak berdaya, putus asa, mengasikan diri, mencari dalih menutupi ketidakmampuannya, mencari kompensasi, berfantasi, atau bertingkah laku kekanak-kanakan. Yang lebih parah bagi seseorang ialah apabila frutasi disertai agresi  sehingga tingkah lakunya menjadi agresif. Ia mengambinghitamkan orang lain, menyebarkan fitnah, merusak benda, bahkan menyerang orang, baik dengan kata-kata yang menyakitkan maupun dengan tinju.
   Apabila frutasi itu diderita oleh karyawan, apabila jika jumlah banyak ini akan mengganggu jalannya organisasi akan menjadi rintangan bagi tujuan yang hendak dicapai oleh organisasi. Tidaklah bijaksana jika seseorang pemimpin menagani pegawai yang frutasi dengan tindakan kekerasan. Disilah pentingnya peranan kepada problem situasi kepada problem solving behavior.
   Dalam kegiatan hubungan manusiawi ada cara untuk teknik yang bisa digunakan untuk pembantu mereka yang menderita frutasi, yakni apa yang disebut counseling (karena tidak ada perkataan bahsa Indonesia yang tepat, dapat diindonesiakan menjadi konseling). Yang bertindak sebagai konselor (counselor) bisa pemimpin organisasi, kepala humas atau kepala-kepala lainnya (kepala bagian, seksi dan lain-lain)
   Tujuan konseling ialah membantu konseli, yakni karyawan yang menhadapi masalah atau yang menderita frutasi, untuk memecahkan masalahnya sendiri atau mengusahakan terciptanya suasana yang menimbulkan keberanian untuk memecahkan masalahnya. Ini tidak berarti bahwa koselor memberikan arah yang khusus untuk dituruti oleh konseli. Konselor hanya memberikan nasihat. Konseli sendiri yang harus mengambil kesimpulan dan keputusan berdasarkan jalan yang dipilihnya sendiri. Jadi, konselor membatu konseli memperoleh pengertian tentang masalahnya. Selama masalahnya belum di mengerti dengan jelas untuk dihadapinya dengan jujur, tidak akan dapat diambil langkah-langkah pemecahannya. Aspek ini menyangkut perasaan. Koselor akan berhasil apabila ia memahami benar-benar frame of refence konseli: pengalamannya, taraf pengetahuannya, agamannya, pandangan hidupnya dan sebagainnya.
   Dalam kegiatan hubungan manusiawi terdapat dua jenis konseling, bergantung pada pendekatan (approach) yang dilakukan. Kedua jenis konseling tersebut ialah directive counseling, yakni konseling yang langsung terarah dan non-directive,  yakni konseling yang tidak langsung terarah.
a.     Konseling Langsung
      Konseling langsung kadang-kadang disebut juga counselor center approanch, yakni konseling yang pendekatan terpusat pada konselor. Dalam teknik konseling seperti ini aktivitas utama terletak pada konselor. Pertama-tama konselor berusaha agar terjadi hubungan akrab sehingga konseli menaruh kepercayaan padanya. Selanjutnya ia mengajukan pertanyaan-pertanyaan dalam rangka mengumpulkan informasi. Informasi yang diperolehnya itu berusaha memahami masalah yang memberati konseli.
      Untuk mengetahui diagnosis yang tepat, konseli mengemukakan fakta yang berhubungan dengan masalah itu. Jika konseli mengemukkan kesulitannya, konselor harus merasa pasti bahwa itulah amsalah yang dihadapi oleh konseli, yang menyebabkan ia menderita frustasi. Konselor harus mengerti benar-benar mengenai informasi yang diperolehnya itu sehingga ia dapat melakukan interpretasi. Hanya bisa ia mengerti dan melakukan interpretasi, ia akan dapat memberikan nasihat dan sugesti kepada konseli. Syarat sugesti ialah kepercayaan. Koseli akan kena sugesti kalau ia menaruh kepercayaan kepada konselor, kalau konselor mempunyai kelebihan pengalaman dan pengetahuan daripada konseli dan bila tingkah laku konselor tidak tercelah.
b.     Konseling Tidak Langsung
      Non-directive counseling atau tidak langsung disebut juga counselee centered approach, pendekatan yang terpusat kepada konseli. Jenis ini dapat digunakan oleh konselor yang tidak memiliki pengetahuan mendalam mengenai psikologi.
      Dibandingkan dengan counselor approach counseling  yang tradisonal itu, counselor approach counseling  lebih ampu dalam membantu seseorang yang menderita frutasi. Dalam konseling jenis ini, aktivitas utama terletak pada pihak konseli, sedangkan konselor hanya berusaha agar koseli merasa mudah memimpin dirinya sendirinya sendiri. Konseli dibantu untuk merasa dirinya bebas untuk menyatakan isi hatinya dan sebagainya. Dalam mengemukakan semua itu ia tidak merasa dipaksa.
      Meskipun dikatakan non-directive, maksud konselor tetap hendak membantu konseli untuk mendiagnosis gangguan jiwanya dan berusaha menghilangkan motif-motif buruk yang menyebebkan gangguan itu. Konselor beruhasa agar konseli menacri jalan keluar sendiri dari kesukaran-kesukarannya. Untuk itu konselor mencipkan suasana psikologis yang memungkinkan adanya saling mengerti, antusiasme dan sikap ramah-tamah, suasana yang memungkinkan konseli menyatakan segala dan perasaanya. Dalam dialog dari hati ke hati itu konselor mendorong konseli untuk menyelidiki dirinya lebih dalam. Dengan mencetuskan isi hatinya konseli akan mengoreksi dirinya, mengingat-ingat hal-hal yang pernah dialaminya dan memahami pengalaman-pengalamannya. Dengan demikian, motif-motif yang konstruktif akan lebih jenis baginya dan ia merasa kebutuhan akan motif-motif tersebut. Berdasarkan  motif-motif itu ia akan memilih dengan bebas cara bertingkah laku yang lebih baik dan meninggalkan cara-cara laku yang sebelumnya telah menggagunya.
      Dalam tanya-jawab itu, tugas konselor memang tidak mudah. Ia harus menyingkirkan sikap super atau perasaan diri berpangkat lebih tinggi, lebih pintar, lebih pengalaman dan sebagainya.
      Masalah yang sedang diperbincangkannya harus dinjau dari dasar pihak konseli yang sedang dibantunya. Konselor harus bersikap empati, yakni turut merasakan yang sedang dirasakan oleh konseli, ingin membebaskan dia dari ganjalan jiwanya. Hanya dengan bersikap demikian pimpinan organinasi atau kepala humas yang berfungsi sebagai konselor itu akan berhasil dalam tugasnya.
      Demikian beberapa hal mengenai hubungan manusiawi sebagai kegiatan yang termasuk kedalam hubungan masyarakat dalam rangka membina hubungan yang harmonis antara organisasi yang diwakili pimpinannya sendiri atau kepala humas dengan khalayak, baik khayak dalam maupun khayak luar. Dan itulah pula pembahasan sederhana mengenai hubungan masyarakat sebagai objek studi ilmu komunikasi.
  
2.3    Teknik Pendekatan Hubungan Manusiawi 
Hubungan manusia pada umumnya dilakukan untuk menghilangkan hambatan-hambatan komunikasi, meniadakan salah pengertian dan mengembangkan tabiat manusia. Untuk melakukan  hubungan manusia biasanya digunakan beberapa teknik pendekatan yaitu pendekatan emosional (emosional approach) dan pendekatan social budaya (sosio-cultur approach).
  1. Pendekatan Emosional (Emosional Approach)
Teknik penekatan yang biasanya digunakan dalam pendekatan semacam ini biasanya bersifat icing (baca: aising), yaitu seni menata pesan dengan emotional appeal sedemikian rupa, sehingga komunikan menjadi tertarik perhatiannya. Bisa dianalogikan dengan kue yang baru dikeluarkan dari panggangan yang ditata dengan lapisan gula warna-warni sehingga kue yang tadinya tidak menarik menjadi indah dan memikat. Dalam hubungan ini komunikator mempertaruhkan kepercayaan komunikan terhadap fakta pesan yang disampaikan, maka teknik ini berujung   pay off atau reward, yaitu  bujukan atau rayuan  dengan cara “mengiming-imingi” komunikan dengan hal yang menguntungkan atau menjanjikan harapan.  Pada umumnya emotional approach ini menggunakan konseling sebagai senjata yang ampuh, baik secara langsung maupun tidak langsung, hal ini bertujuan agar pesan bisa secara langsung  menyentuh  perasaan komunikan.  

  1. Pendekatan Sosial-Budaya (Sosio Culture Approach)   
Salah satu tujuan komunikasi adalah tersampaikannya pesan dari komunikator kepada komunikan, maka dianjurkan bagi komunikator terlebih dahulu  memahami perilaku social serta  budaya masyarakat setempat yang akan menjadi komunikan.  hal ini bertujuan agar komunikan, lebih memahami serta tidak merasa tersinggung  oleh pesan yang disampaikan oleh komunikator,  selain hal tersebut masyarakat yang menjadi komunikan tidak dapat terlepas dari budaya.  oleh karena itu pesan akan lebih mudah diterima jika tidak menghilangkan aspek–aspek seni budaya yang berada di sekitar komunikan berada.  Jika komunikator  tidak memperhatikan  kerangka budaya  yang berkembang di tengah-tengah komunkan. maka tidak menutup kemungkinan pesan yang disampaikan akan mendapatkan penolakan penolakan, pasalnya budaya yang digunakan oleh masyarakat berasal dari falsafah hidupnya,  serta menjadi suatu aturan yang secara tidak langsung digunakan dalam kehidupannya sehari-hari termasuk  ketika seseorang mengaplikasikan pesan–pesan yang disampaikan.  Jika pesan tersebut dapat selaras dengan budaya komunikan maka pesan tersebut dapat menjadi suatu  behavioral, yakni suatu dampak yang timbul pada komunikan dalam bentuk perilaku, tindakan, atau kegiatan.

2.4    Teori Hubungan Antar Manusia
Ada tiga teori yang dapat membantu menerangkan model dan kualitas hubungan antar manusia itu.
A.    Teori Transaksional (Model Pertukaran Sosial)                 
Menurut teori ini, hubungan antar manusia (interpersonal) itu berlangsung mengikuti kaidah transaksional, yaitu apakah masing-masing merasa memperoleh keuntungan dalam transaksinya atau malah merugi. Jika merasa memperoleh keuntungan maka hubungan itu pasti mulus, tetapi jika merasa rugi maka hubungan itu akan terganggu, putus, atau bahkan berubah menjadi permusuhan. Demikian juga rakyat dan pemimpin, suami-isteri, mantu-mertua, direktur-anak buah, guru-murid, mereka berfikir, kontribusi mereka sebanding dengan keuntungan yang diperoleh atau malah rugi. Demikian juga hubungan antara daerah dengan pusat, antara satu entitas dengan entitas lain.
B.     Teori Peran
Menurut teori ini, sebenarnya dalam pergaulan sosial itu sudah ada skenario yang disusun oleh masyarakat, yang mengatur apa dan bagaimana peran setiap orang dalam pergaulannya. Dalam skenario itu sudah "tertulis" seorang Presiden harus bagaimana, seorang gubernur harus bagaimana, seorang guru harus bagaimana, murid harus bagaimana. Demikian juga sudah tertulis peran apa yang harus dilakukan oleh suami, isteri, ayah, ibu, anak, mantu, mertua dan seterusnya. Menurut teori ini, jika seseorang mematuhi skenario, maka hidupnya akan harmoni, tetapi jika menyalahi skenario, maka ia akan dicemooh oleh penonton dan ditegur sutradara. Dalam era reformasi sekarang ini nampak sekali pemimpin yang menyalahi scenario sehingga sering didemo public.
C.     Teori Permainan
Menurut teori ini, klassifikasi manusia itu hanya terbagi tiga, yaitu anak-anak, orang dewasa dan orang tua. Anak-anak itu manja, tidak ngerti tanggungjawab, dan jika permintaanya tidak segera dipenuhi ia akan nangis terguling-guling atau ngambek. Sedangkan orang dewasa, ia lugas dan sadar akan tanggungjawab, sadar akibat dan sadar resiko. Adapun orang tua, ia selalu memaklumi kesalahan orang lain dan menyayangi mereka. Tidak ada orang yang merasa aneh melihat anak kecil menangis terguling-guling ketika minta eskrim tidak dipenuhi, tetapi orang akan heran jika ada orang tua yang masih kekanak-kanakan. Suasana rumah tangga juga ditentukan oleh bagaimana kesesuaian orang dewasa dan orang tua dengan sikap dan perilaku yang semestinya ditunjukkan. Jika tidak maka suasana pasti runyam. Demikian juga hubungan antara pusat dan daerah, antara atasan dan bawahan. Aparat Pemerintah mestilah bersikap dewasa, Presiden dan Ketua MPR mestilah jadi orang tua.

2.5    Aliran Hubungan manusiawi
  1. Aliran Hubungan Manusiawi (Neo Klasik)
Hakikatnya adalah sumber daya manusia. Aliran timbul karena pendekatan klasik tidak sepenuhnya menghasilkan efieiensi dalam produksi dan keselarasan kerja. Para pakar mencoba melengkapi organisasi klasik dengan pandangan sosiologi dan psikologi. . Oleh sebab itu para manajer perlu dibantu dalam menghadapi rnanusia, melalui antar lain ilmu sosiologi dan psikologi. Ada tiga orang pelopor aliran perilaku yaitu :
1.                                                     Hugo Munsterberg (1863 -1916)
Sebutannya Bapak Psikologi Industri. Sumbangannya yang terpenting adalah berupa pernanfaatan psikologi dalam mewujudkan tujuan-tujuan produktivitas sarna seperti dengan teori-teori manajemen lainnya. Bukunya yaitu Psikology and Industrial Efficiensy, menguraikan bahwa untuk mencapai tujuan produktivitas harus melakukan tiga cara pertama penemuan best possible person, kedua penciptaan best possible work dan ketiga penggunaan best possible effect.

2.                                                     Elton Mayo (1880 -1949)
Gerakan yang memperkenalkan hubungannya yang diartikan sebagai satu gerakan yang memiliki hubungan timbal batik manajer dan bawahan sehingga mereka secara serasi mewujudkan kerjasama yang memuaskan, dan tercipta semangat dan efisiensi kerja yang memuaskan. Elton ini terkenal dengan percobaan-percobaan Howthorne, dimana hubungan manusiawi menggambarkan manajer bertemu atau berinteraksi dengan bawahan. Bila moral dan efisiensi kerja memburuk, maka hubungan manusiawi dalam organisasi juga akan buruk.
3.                                                     William Ouchi (1981)
Memperkenalkan teori Z pada tahun 1981 untuk menggambarkan adaptasi Amerika atas perilaku Organisasi Jepang. Teori beliau didasarkan pada perbandingan manajemen dalam organisasi. Jepang disebut tipe perusahaan Jepang dengan manajemen dalam perusahaan Amerika -disebut perusahaan tipe Amerika. Berikut adalah perbedaan organisasi tipe Amerika dan tipe Jepang.

  1. Aliran Hubungan Modern (Ilmu Pengetahuan)
Dalam pengembangannya dibagi menjadi dua, pertama aliran hubungan manusiawi (perilaku organisasi), dan kedua berdasar pada manajemen ilmiah atau manajemen operasi.
*        Perilaku Organisasi
1.         Douglas McGregor, terkenal dengan Teori X dan Teori Y
2.         Frederick Herzberg, terkenal dengan Teori Motivasi Higenis atau Teori Dua Factor
3.         Chris Argiris, mengatakan bahwa organisasi sebagai system social atau system antar hubungan budaya
4.         Edgar Schein, dinamika kelompok dalam organisasi
5.         Abraham Maslow, mengemukakan tentang hirarki kebutuhan, perilaku manusia, dan dinamika proses.
6.         Robert Blak dan Jane Mouton, mengemukakan lima gaya kepemimpinan dengan kisi-kisi manajerial (managerial grid)
7.         Rensislikert, mengemukakan empat system manajemen dari system explotatif otoritatif sampai system partisipatif kelompok.
8.         Fred Feidler, menerapkan pendekatan kontigensi pada studi kepemimpinan.
*        Prinsip Dasar Perilaku Organisasi
1.         Manajemen tidak dapat dipandang sebagai proses teknik secara ketat (peranan,prosedur dan prinsip).
2.         Manajemen harus sistematis, pendekatannya harus dengan pertimbangan konservatif.
3.         Organisasi sebagai suatu keseluruhan dan pendekatan manajer individual untuk pengawasan harus sesuai dengan situasi.
4.         Pendekatan motivasional yang menghasilkan komitmen pekerja terhadap tujuan organisasi sangat dibutuhkan.

  1. Aliran Kuantitatif
Perkembagannya dimulai dengan digunakannya kelompok-kelompok riset operasi dalam memecahkan permasalahan dalam industri. Teknik riset operasi sangat penting sekali dengan semakin berkembangnya teknologi saat ini dalam pembuatan dan pengambilan keputusan. Penggunaan riset operasi dalam manajemen ini selanjutnya dikenal sebagai aliran manajemen science.
Langkah-langkah pendekatan manajemen science yaitu :
1.   Perumusan masalah dengan jelas dan terperinci
2.   Penyusunan model matematika dalam pengambilan keputusan
3.   Penyelesaian model
4.   Pengujian model atas hasil penggunaan model
5.   Penetapan pengawasan atas hasil
6.   Pelaksanaan hasil dalam kegiatan implementasi

  1. Pendekatan Sistem
Pendekatan ini memandang organisasi sebagai satu kesatuan yang saling berinteraksi yang tak terpisahkan. Organisasi merupakan bagian dari lingkungan eksternal dalam pengertian luas. Sebagai suatu pendekatan system manajemen meliputi sistem umum dan sistem khusus serta analisis tertutup maupun terbuka.
Pendekatan sistem umum meliputi konsep-konsep organisasi formal dan teknis, filosofis dan sosiopsikologis. Analis system manajemen spesifik meliputi struktur organisasi, desain pekerjaan, akuntansi, sistem informasi dan mekanisme perencanaan serta pengawasan.
  1. Pendekatan Kontingensi
Pendekatan kontingensi digunakan untuk menjembatani celah antara teori dan praktek senyatanya. Biasanya antara teori dengan praktek, maka harus memperhatikan lingkungan sekitarnya. Kondisi lingkungan akan memerlukan aplikasi konsep dan teknik manajemen yang berbeda.

BAB III
PENUTUP

         Kesimpulan
·          Ada dua pengertian hubungan manusiawi, yakni hubungan manusiawi dalam arti luas dan hubungan manusiawi dalam arti sempit.
a.     Hubungan manusiawi dalam arti luas ialah interaksi antara seseorang dengan orang lain dalam segala situasi dan dalam semua bidang kehidupan.
b.     Hubungan manusiawi dalam arti sempit adalah juga interaksi antara seseorang dengan orang lain.
·          Dalam kegiatan hubungan manusiawi terdapat dua jenis konseling, bergantung pada pendekatan (approach) yang dilakukan. Kedua jenis konseling tersebut ialah directive counseling, yakni konseling yang langsung terarah dan non-directive,  yakni konseling yang tidak langsung terarah.
·          Untuk melakukan  hubungan manusia biasanya digunakan beberapa teknik pendekatan yaitu pendekatan emosional (emosional approach) dan pendekatan social budaya (sosio-cultur approach).
·          Ada tiga teori yang dapat membantu menerangkan model dan kualitas hubungan antar manusia itu, yaitu:
a.      Teori Transaksional (Model Pertukaran Sosial)
b.     Teori Peran
c.      Teori Permainan
·          Aliran hubungan manusiawi terdiri dari 5 yaitu :
a.      Aliran Hubungan Manusiawi (Neo Klasik)
b.      Aliran Hubungan Modern (Ilmu Pengetahuan)
c.      Aliran Kuantitatif
d.     Pendekatan Sistem
e.      Pendekatan Kontingensi

DAFTAR PUSTAKA

Effendy, Onong Uchjana.1984. Ilmu Komunikasi Teori dan Praktek. Bandung : PT Remaja Rosdakarya
http://aditya.ngeblogs.com/2009/10/20/perkembangan-teori-manajemen/


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar