Rabu, 21 Agustus 2013

Filsafat Gempa Bumi

BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Tsunami, sebuah istilah yang beberapa tahun terakhir hingga kini di Indonesia menjadi sebuah momok yang sangat menakutkan. Hal ini terjadi karena sebagai negara kepulauan yang dikelilingi oleh laut dan samudera, Indonesia sangat berpotensi terkena tsunami. Tsunami sendiri merupakan bencana besar yang sanggup menghancurkan apa yang menghadangnya. 26 Desember 2004 pukul 7.58 minggu pagi, dunia juga tahu betul apa yang terjadi pada tanggal tersebut di Aceh. Sebuah musibah Maha dahsyat di dunia yang terjadi dalam kurun waktu 40 tahun terakhir. Sekaligus menutup lembaran akhir tahun 2004 dengan fenomena kisah sedih di hari minggu. Semua mata dunia tercengang dan tersentak diliputi lara.
Kini hampir 8 tahun Tsunami Aceh telah berlalu. Penulis tidak akan membahas kesedihan yang pernah terpatri di hati. Namun melalui teguran Allah itu hendaknya kita bisa membuka mata, telinga dan jujur pada diri sendiri tentang apa yang sudah kita kerjakan di bumi Allah ini sehingga bencana Maha dahsyat itu menjadi layak bagi kita. Hari ini yang harus diperbaiki adalah merenungi teguran Allah tersebut dan mampu menyikapinya dengan perubahan sikap yang lebih baik serta dapat mengambil pelajaran berharga dari bencana tsunami tersebut.
 Tsunami dahsyat di Aceh tidak hanya melanda wilayah bagian Indonesia saja, akan tetapi terjadi hampir di seluruh pesisir Asia, mulai sumatera, Thailand, India, Srilangka, Malaysia, Singapura bahkan sampai Afrika. Tsunami tersebut diawali oleh sebuah gempa berkekuatan 9.3 Scala Richter dan merupakan gempa bumi terbesar dalam 40 tahun sejarah gempa bumi di wilayah Asia. Tsunami di Aceh merupakan salah satu dari rentetan bencana tsunami yang pernah hadir di bumi pertiwi ini. Bencana ini juga pernah melanda daerah Pangandaran dan Mentawai Sumatera Barat. Gempa bumi yang diikuti gelombang tsunami di lepas pantai barat Nanggroe Aceh Darussalam tersebut menyebabkan jatuhnya korban jiwa lebih dari 150.000 orang di belasan negara yang berbatasan dengan Samudra Hindia.
Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya. Di laut dalam, gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500-1000 km per jam. Setara dengan kecepatan pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter. Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di tengah laut. Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun hingga sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai puluhan meter. Hantaman gelombang Tsunami bisa masuk hingga puluhan kilometer dari bibir pantai. Kerusakan dan korban jiwa yang terjadi karena Tsunami bisa diakibatkan karena hantaman air maupun material yang terbawa oleh aliran gelombang tsunami.
Untuk mengurangi resiko akibat tsunami ini sebenarnya telah hadir  teknologi peringatan dini yang dikembangkan di pesisir pantai Indonesia  yang dapat mengenali dan mengirimkan data ukuran, kecepatan dan arah tsunami dalam hitungan detik. Pemerintah Indonesia, dengan bantuan negara-negara donor, telah mengembangkan Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (Indonesian Tsunami Early Warning System - InaTEWS). Sistem ini berpusat pada Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) di Jakarta. Sistem ini memungkinkan BMKG mengirimkan peringatan tsunami jika terjadi gempa yang berpotensi mengakibatkan tsunami.
Sistem yang ada sekarang ini sedang disempurnakan.
Instansi yang ditunjuk dan bertanggung jawab untuk mengeluarkan info gempa dan peringatan dini tsunami adalah BMKG (Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika). Sistem ini didesain untuk dapat mengeluarkan peringatan tsunami dalam waktu paling lama 5 menit setelah gempa terjadi. Sistem tersebut bisa menyelamatkan jutaan warga pesisir di sejumlah negara di kawasan Pasifik. Tentunya sistem tersebut memerlukan teknologi yang canggih, operator terlatih, dan terutama sistem komunikasi yang bisa menyampaikan data adanya tsunami ke sejumlah negara di Samudra Hindia.
Namun secanggih apa pun sistem deteksi awal gelombang tsunami tidak akan berarti apa-apa jika warga masyarakat pesisir tidak mendapat peringatan sesegera mungkin. Jadi teknologi sensor gelombang tsunami hanya salah satu bagian dari sistem peringatan dini. Hal terpenting adalah memberikan pendidikan kepada masyarakat pesisir untuk mewaspadai adanya gelombang tsunami dan mengenal tanda peringatan untuk waspada atau mengungsi dengan isyarat tertentu. Ketika permukaan air laut di pantai tiba-tiba surut, maka masyarakat harus tahu untuk bersiap-siap mengungsi, namun yang berbahaya adalah masyarakat yang tidak tahu, justru langsung memburu tepi pantai karena air yang surut memunculkan ikan yang tiba-tiba terdampar.
Karena begitu pentingnya masyarakat mengetahui seluk beluk mengenai tsunami ini, termasuk dampak tsunami dan cara menekan jumlah korban akibat tsunami tersebut, maka penulis tertarik untuk mengkaji tsunami dari sudut pandang filsafat ilmu. Kajian mengenai tsunami ini mencakup aspek ontologi (apa sebenarnya yang dimaksud dengan tsunami), epistemologi (apa penyebabnya dan bagaimana terjadinya tsunami) serta aksiologi (apa manfaat yang bisa kita petik setelah mempelajari tsunami).

B.     Rumusan Masalah
Dari latar belakang permasalahan, maka rumusan masalah dalam penulisan makalah ini antara lain:
1.      Apakah sebenarnya yang disebut sebagai tsunami dari sudut pandang ontologi?
2.      Bagaimanakah terjadinya tsunami dari sudut pandang aksiologi?
3.      Apakah manfaat dari mempelajari bencana tsunami dari sudut pandang aksiologi?

C.     Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk:
1.        Menjelaskan tentang tsunami dari sudut pandang ontologi
2.        Menjelaskan terjadinya tsunami dari sudut pandang aksiologi
3.        Menjelaskan tentang manfaat mempelajari bencana tsunami dari sudut pandang aksiologi.

D.    Manfaat Penulisan
Penulisan makalah ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai:
1.      Tambahan pengetahuan dan pemahaman kepada penulis, pembaca dan masyarakat pada umumnya, mengenai seluk beluk bencana tsunami secara ontologi, epistemologi dan aksiologi ilmu.
2.      Tambahan pengetahuan kepada pembaca tentang tanda-tanda terjadinya tsunami, hal-hal yang harus dilakukan saat tsunami datang dan setelah terjadinya tsunami, sehingga pembaca lebih siaga menyikapi bencana tsunami ini.

BAB II
PEMBAHASAN

A.      Kajian Ontologi Tsunami
1.    Pengertian Tsunami
Tsunami berasal dari bahasa jepang yaitu; tsu = pelabuhan, nami = gelombang, secara harafiah berarti "ombak besar di pelabuhan". Tsunami adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba. Perubahan permukaan laut tersebut bisa disebabkan oleh gempa bumi yang berpusat di bawah laut, letusan gunung berapi bawah laut, longsor bawah laut, atau atau hantaman meteor di laut. Gelombang tsunami dapat merambat ke segala arah. Tenaga yang dikandung dalam gelombang tsunami adalah tetap terhadap fungsi ketinggian dan kelajuannya.
Di laut dalam, gelombang tsunami dapat merambat dengan kecepatan 500-1000 km per jam, setara dengan kecepatan pesawat terbang. Ketinggian gelombang di laut dalam hanya sekitar 1 meter. Dengan demikian, laju gelombang tidak terasa oleh kapal yang sedang berada di tengah laut. Ketika mendekati pantai, kecepatan gelombang tsunami menurun hingga sekitar 30 km per jam, namun ketinggiannya sudah meningkat hingga mencapai puluhan meter. Hantaman gelombang Tsunami bisa masuk hingga puluhan kilometer dari bibir pantai. Kerusakan dan korban jiwa yang terjadi karena Tsunami bisa diakibatkan karena hantaman air maupun material yang terbawa oleh aliran gelombang tsunami.
Sejarawan Yunani bernama Thucydides merupakan orang pertama yang mengaitkan tsunami dengan gempa bawah laut. Namun hingga abad ke-20, pengetahuan mengenai penyebab tsunami masih sangat minim. Penelitian masih terus dilakukan untuk memahami penyebab tsunami. Teks-teks geologi, geografi, dan oseanografi di masa lalu menyebut tsunami sebagai "gelombang laut seismik".
Gelombang seismik adalah rambatan energi yang disebabkan karena adanya gangguan di dalam kerak bumi, misalnya adanya patahan atau adanya ledakan. Energi ini akan merambat ke seluruh bagian bumi dan dapat terekam oleh seismometer. Efek yang ditimbulkan oleh adanya gelombang seismik dari gangguan alami seperti: pergerakan lempeng (tektonik), bergeraknya patahan, aktivitas gunung api (vulkanik) adalah apa yang kita kenal sebagai fenomena gempa bumi. Jadi antara gempa bumi dan tsunami memang tidak bisa dipisahkan, karena sebelum terjadinya tsunami selalu diawali dengan terjadinya gempa bumi, walaupun penyebab tsunami tidak hanya berasal dari gempa bumi bawah laut.
Menurut Iwan (2006) “Tsunami adalah rangkaian gelombang laut yang mampu menjalar dengan kecepatan hingga lebih 900 km per jam, terutama diakibatkan oleh gempabumi yang terjadi di dasar laut. Kecepatan gelombang tsunami bergantung pada kedalaman laut. Di laut dengan kedalaman7000 m misalnya, kecepatannya bisa mencapai 942,9 km/jam. Kecepatan ini hampir sama dengan kecepatan pesawat jet. Namun demikian tinggi gelombangnya di tengah laut tidak lebihdari 60 cm. Akibatnya kapal-kapal yang sedang berlayar diatasnya jarang merasakan adanya tsunami.
Berbeda dengan gelombang laut biasa, tsunami memiliki panjang gelombang antara dua puncaknya lebih dari 100 km di laut lepas dan selisih waktu antara puncak-puncak gelombangnya berkisar antara 10 menit hingga 1 jam. Saat mencapai pantai yang dangkal, teluk, atau muara sungai gelombang ini menurun kecepatannya, namun tinggi gelombangnya meningkat puluhan meter dan bersifat merusak. Menurunnya kecepatan tsi ketika mencapai pantai .
  
2.    Mengaitkan Tsunami dengan Kalamullah dalam Kitab Suci Al-quran
Secara tegas kalimat tsunami tidak akan kita temukan dalam Al Quran, karena tsunami berasal dari bahasa jepang. Tetapi kalau dihubungkan dengan defenisi yang diberikan oleh Bakornas (2005) tsunami itu sendiri adalah sebagai gelombang laut dengan periode panjang yang ditimbulkan oleh gangguan impulsif dari dasar laut, tsunami ini menimbulkan gelombang besar ke daerah pantai. Memperhatikan defenisi dari tsunami tersebut, maka dalam Al Quran akan ditemukan 2 (dua) ayat yakni dalam Surat Al Infithar ayat 3, ”dan apabila lautan menjadi meluap” dan Surat At Takwiir ayat 6 “dan apabila laut dipanaskan”. Makna ke dua Surat tersebut, adalah saling mempertegas, dimana laut akan meluap karena adanya proses pemanasan di dasar bumi.
Menurut teori, gangguan implusif seperti gempa tektonik, erupsi vulkanik, dan longsoran (land slide). Tsunami menyebabkan terjadinya bencana di darat dan di laut, sebagaimana yang dijelaskan pada Surat Al An’am ayat 63, dimana Allah menanyakan kepada manusia yakni, Katakanlah: “Siapakah yang dapat menyelamatkan kamu dari bencana di darat dan di laut. Jadi Gambaran-gambaran berkenaan dengan tsunami yang pasti berlaku banyak diterangkan oleh al-quran, Allah memberikan kita peringatan agar kita sentiasa bersedia menghadapinya dengan bekalan taqwa kepada Allah s.w.t dan itulah sebaik-baik bekalan.
3.    Enam Bencana Tsunami Terbesar di Dunia
Banyak tsunami yang telah terjadi sepanjang sejarah manusia. Beberapa di antaranya adalah yang terjadi di Indonesia, seperti tsunami yang menghantam wilayah Mentawai pada Senin (25/10/2010) lalu dan tsunami Aceh pada tahun 2004 lalu. Sejarah mencatat bahwa selama ratusan bahkan ribuan tahun yang lalu, bencana tsunami sudah terjadi di permukaan bumi (Ahhira: 2012). Berikut ini adalah catatan sejarah tentang lima tsunami yang paling mematikan.
a.    Tsunami Aceh
Tsunami ini terjadi pada tanggal 26 Desember 2004 akibat gempa berkekuatan 9,1 hingga 9,3 skala Richter. Gelombang tsunami menyapu beberapa wilayah di Aceh, India, Sri Lanka, Thailand, Maladewa, dan wilayah Afrika Timur. Sejumlah 226.000 jiwa tewas akibat tsunami ini dengan 166.000 jiwanya merupakan warga negara Indonesia. Gempa penyebab tsunami ini merupakan gempa terbesar keempat yang terjadi dalam sejarah, sedangkan tsunaminya merupakan tsunami yang terbesar. Jumlah orang yang meninggal mencapai 226.000 jiwa dengan 166.000 jiwanya merupakan orang Indonesia.
b.    Tsunami di masa Yunani Kuno
Tsunami di masa Yunani Kuno ini diketahui merupakan tsunami pertama yang terekam sepanjang sejarah. Sebab, tsunaminya adalah meletusnya gunung yang berada di dekat Pulau Thera atau Santorini. Jumlah orang yang tewas dalam tsunami ini tidak diketahui dengan pasti, tetapi ditaksir mencapai lebih dari 100.000 orang. Gelombang tsunami diperkirakan mencapai 15 meter. Sementara itu, tsunami yang terjadi pada tahun 1500 SM ini diperkirakan menjadi sebab runtuhnya peradaban Minoa, salah satu peradaban yang berkembang kala itu.



c.          Tsunami di Portugal, Spanyol, dan Maroko
Tsunami ini terjadi akibat gempa berpusat di dasar perairan Atlantik pada tahun 1755. Gelombang tsunami menghantam kota-kota di Portugal, Spanyol, dan Maroko dengan kerusakan terparah terjadi di wilayah kota Lisbon. Tinggi gelombang tsunami memang tak melebihi Tsunami Krakatau, tetapi jumlah orang yang tewas jauh lebih banyak, sebanyak 60.000 orang.
d.         Tsunami Laut China Selatan
Tsunami ini terjadi pada tahun 1782 di wilayah Laut China Selatan yang berdekatan dengan Taiwan. Sebab, tsunami adalah gempa tektonik yang terjadi di dasar lautan. Tidak jelas pusat gempa dan kekuatannya, tetapi sebanyak 40.000 orang tewas karenanya. Berdasarkan katalog tsunami yang dipublikasikan Rusia, gelombang tsunami menerjang daratan hingga sejauh 120 kilometer.
e.         Tsunami akibat letusan Gunung Krakatau di Selat Sunda.
Tsunami ini terjadi pada tahun 1883 dan membunuh sekitar 36.000 orang. Gelombang tsunami yang ditimbulkan oleh letusan mencapai tinggi 40 meter dan menyapu setidaknya 165 desa di wilayah Jawa dan Sumatera. Letusan Krakataunya sendiri merupakan letusan gunung api yang terbesar dalam sejarah, menimbulkan suara yang begitu keras dan abu vulkanik yang bahkan tersebar hingga ke Australia.
f.           Tsunami Jepang
Jepang adalah negara yang sangat sering mengalami gemapa bumi. Tak jarang gempa-gempa tersebut juga membawa bencana tsunami. Salah satu tsunami terdahsyat di dunia terjadi pada 15 Juni 1896. Tsunami yang disebabkan oleh gempa ini menciptakan gelombang setinggi 30 meter dan menyapu seluruh pantai timur di wilayah jepang. Setidaknya ada 27.000 orang tewas akibat tsunami tersebut.


B.       Kajian Epistemologi Tsunami
1.    Karakteristik Fisika dari Gelombang Tsunami
Tsunami merupakan gelombang seismik yang menjalar dari dasar laut ke bibir pantai. Sebagai sebuah gelombang, tsunami bisa diidentifikasi karakteristik fisikanya. Menurut Ahhira (2012) bahwa karakteristik dari gelombang tsunami yaitu:
a.         Kecepatan rambat  tsunami (v)
Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman air pada pusat terjadinya gangguan seismik, kecepatan gelombang bisa mencapai 900 km/jam (560 mile/jam dan setara dengan kecepatan pesawat terbang), namun melambat sampai kira-kira 50 km/jam (31 mile/jam) saat gelombang mencapai pantai.
Cepat rambat gelombang adalah kelajuan sebuah gelombang. Cepat rambat gelombang pada laut normal adalah kira-kira 90 km/jam sementara tsunami memiliki cepat rambat sampai 900 km/jam.                                
b.         Tinggi gelombang
Tinggi gelombang menunjukkan jarak antara dasar dan puncak gelombang. Tsunami bisa sangat merusak, karena ketinggian gelombang bisa mencapai 30 m (yang pernah tercatat). Dampaknya berupa banjir, kontaminasi air garam pada pertanian, tanah dan sumber air juga berdampak pada bangunan, struktur dan vegetasi sepanjang pantai.
c.          Amplitudo gelombang
Amplitudo menunjukkan jarak diantara gelombang dan garis di atas air, biasanya ini sama dengan 0,5 dari tinggi gelombang. Tsunami biasa memiliki tinggi dan amplitude yang berubah-rubah yang tergantung dengan kedalaman air.
d.         Panjang gelombang
Panjang gelombang didefenisikan sebagai jarak diantara dua titik identik pada sebuah gelombang. Gelombang  laut yang normal memiliki panjang gelombang kira-kira 100 m. Tsunami memiliki panjang gelombang yang jauh lebih panjang , biasanya diukur dalam kilo meter dan sampai dengan 500 km.
e.         Perioda
Perioda adalah besarnya waktu yang terpakai untuk satu gelombang penuh untuk melewati satu titik stasioner. Tsunami biasanya memiliki periode dalam rentang 10 menit sampai 2 jam.


2.    Penyebab Terjadinya Tsunami
Tsunami dapat terjadi jika terjadi gangguan yang menyebabkan perpindahan sejumlah besar air, seperti letusan gunung api, gempa bumi, longsor maupun meteor yang jatuh ke bumi. Namun, 90% tsunami adalah akibat gempa bumi bawah laut. Secara rinci proses terjadinya tsunami dapat dijelaskan sebagai berikut:
ü  Gempa terjadi karena adanya energi dari dalam bumi yang mempunyai gelombang frekuensi yang sangat tinggi, kemudian gelombang tersebut semakin lama semakin kuat dan gelombang dari dalam bumi itu timbul ke permukaan bumi, berupa ledakan, pergeseran, lipatan, dan patahan. Proses gempa bumi dimulai dengan keretakan di suatu titik pada suatu kedalaman dan menjalar di sepanjang patahan atau sesar dalam waktu  1-3  menit  atau  lebih,  tergantung magnitudo (kekuatan) gempanya. Panjang bidang patahannya bergantung kepada magnitudo gempa, berkisar antara 50-1000 km atau lebih. Bidang patahan atau sesar memisahkan 2 blok dalam suatu volume bumi yang terpengaruh oleh pergerakan tersebut. Patahan ini biasanya terjadi di daratan, tapi juga bisa terjadi pada permukaan dasar laut. Patahan yang terjadi pada permukaan dasar laut menyebabkan kerusakan plat tektonik secara mendadak.
ü  Kerusakan plat tektonik dan pergerakan vertikal plat tektonik di dasar laut secara mendadak mengubah posisi dan bentuk dasar laut. Perubahan posisi dan bentuk dasar  laut    secara    mendadak   itu diikuti oleh perubahan tempat massa air laut secara mendadak pula.
ü  Terganggunya kestabilan air laut secara vertikal maupun horizontal. Gangguan stabilitas ini kadang terlihat seperti air pasang surut di pantai beberapa saat sebelum tsunami datang. Energi kinetik pergeseran plat tektonik tersebut terkonversi (berubah) menjadi energi potensial air laut dalam volume yang sangat besar sebagai sumber tsunami. Semakin besar kedalaman laut, kecepatan penjalaran gelombang tsunami akan semakin tinggi. Semakin besar magnitudo (kekuatan) gempa dan semakin besar kedalaman laut di pusat gempa, maka energi tsunami dan panjang gelombang akan semakin besar, dan memperpanjang periode gelombang.
ü  Gelombang tsunami bisa sangat panjang (mencapai 700 km) dan bisa menyapu segala macam benda selama satu jam tanpa henti. Gelombang ini bisa melintasi seluruh lautan tanpa banyak kehilangan tenaga. Ketinggian air laut di pantai menyusut secara drastis sebelum gelombang tsunami menghantam. Muatan energi yang sangat besar berupa hantaman tsunami di pantai dapat sangat merusak. Bila terjadi di lautan dalam, tsunami bisa bergerak tanpa disadari.
ü  Bagian atas gelombang bergerak lebih cepat dibanding bagian bawah sehingga menyebabkan permukaan laut meningkat drastis. Ketika sampai di perairan dangkal dekat pantai, kecepatan gelombang secara bertahap akan mengalami pengurangan hingga 50 km/jam. Energi tsunami juga dapat tertahan dan mengalami penurunan oleh beberapa sebab, diantaranya adalah halangan-halangan geologi seperti karang, teluk, aliran masuk sungai, dan formasi bawah laut. Juga karena hambatan pasir pantai yang makin mendangkal, pepohonan, tanggul, hingga rumah-rumah penduduk.
ü  Gelombang yang tertahan ini akan bertumpuk dengan gelombang yang datang berikutnya. Sehingga momentum yang dihasilkan semakin besar dan semakin besar lagi. Demikian juga dengan tinggi gelombangnya. Yang tadinya hanya beberapa kaki saja bisa bertambah tinggi sampai 30 m. Bahkan di Teluk Lituya, Alaska, pada tahun 1958, terjadi peristiwa gelombang tsunami yang tingginya mencapai 525 meter.
ü  Gelombang tsunami mencapai daratan dengan tenaga dorong yang kuat, yang mampu menghancurkan dan merusak segala jenis benda yang berada di tepi pantai. Ketika gelombang tsunami menghantam suatu daerah, maka daerah tersebut akan terbenam di dalam air laut setinggi run up (1-30 m), kemudian surut kembali ke laut. Ketika surut, air laut tersebut membawa hanyutbangunan yang hancur dan benda lainnya termasuk korban manusia ke tengah laut. 10-12 menit kemudian, gelombang tsunami susulan datang dan menghempas lagi secara berulang-ulang, sekitar 10-15 kali. Gambar 3 merupakan skema terjadinya tsunami:
          Kecepatan gelombang tsunami tergantung pada kedalaman laut di mana gelombang terjadi, dimana kecepatannya bisa mencapai ratusan kilometer per jam. Bila tsunami mencapai pantai, kecepatannya akan menjadi kurang lebih 50 km/jam dan energinya sangat merusak daerah pantai yang dilaluinya. Di tengah laut tinggi gelombang tsunami hanya beberapa cm hingga beberapa meter, namun saat mencapai pantai tinggi gelombangnya bisa mencapai puluhan meter karena terjadi penumpukan masa air. Saat mencapai pantai tsunami akan merayap masuk daratan jauh dari garis pantai dengan jangkauan mencapai beberapa ratus meter bahkan bisa beberapa kilometer.
Jadi disimpulkan bahwa penyebab terjadinya tsunami antara lain:
ü  Gempa bumi di dasar laut;
ü  Tanah longsor di dasar laut;
ü  Letusan gunung api di dasar laut; dan
ü  Jatuhnya meteor atau benda kosmis

     
a.    Tsunami Akibat Gempa Bumi
Terjadinya tsunami memang didahului oleh gempa bumi, namun tidak semua gempa bumi dapat menyebabkan terjadinya tsunami. Berikut merupakan karakteristik gempa bumi yang menyebabkan tsunami, yaitu:
ü  Gempa bumi yang berpusat di tengah laut dan dangkal (0 - 30 km);
ü  Gempa bumi dengan kekuatan sekurang-kurangnya 6,5 Skala Richter; dan
ü  Gempa bumi dengan pola sesar naik atau sesar turun

Gempa bumi juga banyak terjadi di daerah subduksi, yaitu daerah dimana terjadi pergeseran lempeng tektonik yang menyusup atau menunjam ke lempeng tektonik lainya Di daerah subduksi ini dapat terjadi gempa gempa dangkal , sedang dan dalam. Gempa yang menyebabkan gerakan tegak lurus lapisan bumi. Akibatnya, dasar laut naik-turun secara tiba-tiba sehingga keseimbangan air laut yang berada di atasnya terganggu.


b.    Tsunami Akibat Letusan Gunungapi
Runtuhan gunung api yang ada di dasar laut dapat mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Tahun 1883, letusan Gunung Krakatau di Indonesia mengakibatkan Tsunami yang dahsyat. Ketika gelombangnya menyapu pantai Lampung dan Banten, kira-kira 5000 kapal hancur dan menenggelamkan banyak pulau kecil. Gelombang setinggi 12 lantai gedung ini, kira-kira 40 m, menghancurkan hampir 300 perkampungan dan menewaskan lebih dari 36000 orang.
c.    Tsunami Akibat Tanah Longsor
Tanah longsor yang terjadi di dasar laut juga dapat mengakibatkan gangguan air laut yang dapat menghasilkan tsunami. Sekitar 81 juta ton es dan batuan jatuh ke Teluk Lituya di Alaska tahun 1958. Longsoran ini terjadi karena guncangan gempabumi sebelumnya. Gelombang tsunami yang terbentuk akibat longsoran ini menjalar cepat sepanjang teluk. Tinggi gelombangnya mencapai 350-500 m saat melanda lereng-lereng gunung dan menyapu pepohonan dan semak belukar. Ajaibnya, hanya dua orang pemancing ikan yang tewas. Seperti apa patahan akibat tanah longsor bawah laut.


d.    Tsunami Akibat Kejatuhan Meteor atau Benda Kosmis
Seperti kita ketahui bumi merupakan salah satu planet yang ada dalam susunan tata surya. Setiap hari bumi menerima hantaman meteor atau benda langit lain. Namun ketika menerima meteor atau benda langit lain yang besar maka bumi akan bergetar. Bergetar permukaan bumi disebabkan jatuhnya benda langit inilah yang disebut gempa bumi jatuhan. Jika meteor jatuh ke dasar laut dan menimbulkan gempa bumi, maka juga bisa menyebabkan tsunami.

3.    Potensi Tsunami di Indonesia
Indonesia merupakan negara yang rawan terhadap tsunami, terutama kepulauan yang berhadapan langsung dengan pertemuan lempeng, antara lain Barat Sumatera, Selatan Jawa, Nusa Tenggara, Utara Papua, Sulawesi dan Maluku, serta Timur Kalimantan. Tsunami di Indonesia pada umumnya adalah tsunami lokal, dimana waktu antara terjadinya gempa bumi dan datangnya gelombang tsunami antara 20 s.d 30 menit.
Selain itu, pada data yang tercatat sejak 1975, Indonesia juga pernah diterjang tsunami regional  yang memiliki daya terjang dalam radius 1.000 km dari sumbernya pada 19 Agustus 1977 di Sumbawa, 18 Juli 1979 di Pulau Lembata, 12 Desember 1992 di Pulau Flores, 1 Januari 1996 di Sulawesi, 17 Februari 1996 di Irian Jaya, 17 Juli 2006 di selatan Pulau Jawa, dan 12 September 2007 di Bengkulu dan Sumatera Barat (BMKG: 2012).
Jika merujuk dari data tersebut, sudah menjadi keharusan bagi negeri ini memiliki suatu sistem peringatan dini tsunami (Tsunami Early Warning System/TEWS) yang terintegrasi peringatan evakuasi bencana ke masyarakat.



4.    Tsunami Early Warning System (TEWS)
Tsunami Early Warning System (TEWS) atau Sistem peringatan dini tsunami adalah sebuah sistem yang dirancang untuk mendeteksi tsunami dan kemudian memberikan peringatan untuk mencegah jatuhnya korban. Sistem ini umumnya terdiri dari dua bagian penting, yaitu jaringan sensor untuk mendeteksi tsunami serta infrastruktur jaringan komunikasi untuk memberikan peringatan dini adanya bahaya tsunami kepada wilayah yang terancam agar proses evakuasi dapat dilakukan secepat mungkin.
Gelombang tsunami memiliki kecepatan antara 500 hingga 1.000 km/jam (sekitar 0,14-0,28 kilometer per detik) di perairan terbuka, sedangkan gempa bumi dapat dideteksi dengan segera karena getaran gempa memiliki kecepatan sekitar 4 kilometer per detik (14.400 km/jam). Getaran gempa yang lebih cepat dideteksi daripada gelombang tsunami memungkinan dibuatnya peramalan tsunami, sehingga peringatan dini dapat segera diumumkan kepada wilayah yang terancam bahaya. Agar lebih tepat, gelombang tsunami harus dipantau langsung di perairan terbuka sejauh mungkin dari garis pantai dengan menggunakan sensor dasar laut secara real time.
Alat peringatan dini tsunami yang biasa digunakan dalam bidang teknologi dan ilmu pengetahuan saat ini adalah “sistem BUOY”. Sistem BUOY ini merupakan alat komunikasi yang dapat digunakan untuk mendeteksi gelombang laut yang tidak dapat dilihat oleh pengamat manusia pada laut dalam. Buoy adalah sebuah alat pendeteksi tsunami (Deep-Ocean Assessment and Reporting of Tsunami/DART) yang terapung di permukaan laut dan merupakan bagian dari skema teknologi TEWS yang disandingkan dengan perangkat OBU (Ocean Bottom Unit) yang terpasang di dasar laut. OBU dipasang bersama seismometer untuk mendeteksi kekuatan gempa di dasar laut. Ketika terjadi getaran gempa, OBU akan mengirimkan informasi kekuatan gempa ke buoy.
Sistem ini juga menggunakan pengukur gelombang pasang yang terintegrasi dengan sistem penerimaan GPS dalam menerima data level permukaan laut (vertikal dan horisontal) di sembilan lokasi di Samudera Hindia. GPS (Global Positioning System) ini berfungsi untuk memberikan data tentang posisi derajat lintang dan derajat bujur terjadinya goncangan. Kemudian, Buoy secara real-time memancarkan informasi lewat satelit pemancar untuk diteruskan ke master station yang ada di daratan. Jika kekuatan gempa mengindikasikan tsunami maka pihak terkait yang berada di master station langsung memberikan informasi ke beberapa institusi untuk memberikan peringatan dini kepada masyarakat berupa alarm maupun penyiaran darurat radio dan televisi.
        Buoy yang dipasang di dekat sumber gempa dan tsunami bekerja berdasarkan gelombang tsunami atau anomali elevasi muka air laut yang dideteksi oleh sensor yang ditempatkan di OBU. “Alat inilah yang berfungsi mere­kam kedatangan gelombang tsunami. Dari OBU, data dikirim ke Buoy, kemudian dari Buoy dikirim ke satelit untuk diteruskan ke stasiun penerima di Jakarta yaitu di BPPT dan Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geo­fisika (BMKG).
Dalam kondisi normal Buoy mengirim data tiap satu jam, namun jika terjadi tsunami, Buoy akan mengirim data tiap satu menit. Waktu pengiriman data dari OBU sampai ke stasiun penerima adalah 1 hingga 2 menit. Dengan karakteristik kegempaan di wilayah laut Indonesia, info dari Buoy diharapkan dapat diterima dalam waktu maksimum 5 hingga 15 menit setelah gempa, namun tergantung lokasi Buoy terhadap pusat gempa. Dengan sistem ini masyarakat punya cukup waktu untuk evakuasi. Selain memberikan tuntunan dan petunjuk upaya penyelamatan bagi masyarakat ketika terjadi tsunami, sistem peringatan dini tsunami ini juga diharapkan untuk memperkecil potensi jumlah kematian dan kerusakan akibat tsunami.
Keberadaan sistem Buoy tsunami ini telah ada di Pulau Siberut, tepatnya di koordinat 100 derajat 02 30 detik BT 15600 LS, antara Pulau Siberut dengan Kota Padang, tapi Buoy ini belum dipa­sang OBU, sehingga Buoy tak bisa berfungsi. Pemasangan OBU ini dilakukan dengan alat berat crane, karena berat OBU ini mencapai 3 ton,” ujarnya. Dijelaskan Athur, OBU tersebut dibuat sendiri oleh BPPT yang hampir 100 persen menggunakan produk Indonesia. Selain bergerak di bidang penelitian, BPPT juga membuat alat-alat sistem peringatan dini Indonesia yang dipasang di laut, serta menjalankan berbagai program lain yang berhubungan dengan kelautan (Habibi: 2008).
Selain di Sumbar, BPPT juga memasang alat pendeteksi tsunami di beberapa daerah lain yang rentan tsunami, seperti di Simeulue Aceh, Pulau Aru dan Halmahera di Maluku, dan di perairan Jawa bagian selatan. Di perairan Pagai Selatan Men­tawai juga telah terpasang alat peringatan dini, namun alat itu dimiliki oleh Jerman. Begitu juga 2 alat pendeteksi di Samudera Hindia dekat Kepulauan Mentawai dimiliki oleh Amerika, bukan Indonesia. Tak heran jika informasi kejadian tsunami di Mentawai pada Oktober 2010 lalu lebih awal diketahui oleh negara lain.

C.      Kajian Aksiologi dari Tsunami
1.     Menentukan Sikap bijak Menghadapi Bencana Alam
“Maka tatkala Allah menyelamatkan mereka, tiba-tiba mereka membuat kezaliman di muka bumi tanpa (alasan) yang benar. Hai manusia, sesungguhnya (bencana) kezalimanmu akan menimpa dirimu sendiri; (hasil kezalimanmu) itu hanyalah kenikmatan hidup duniawi, kemudian kepada Kami-lah kembalimu, lalu Kami kabarkan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan. (QS : Yunus 23)

Kefanaan dan kesementaraan hidup dan alam ini, dapat membuktikan betapa manusia tidak akan berdaya menghadapi berbagai cobaan dan terjadinya bencana alam. Alam yang semula indah dan ramah dengan segala isi kekayaannya yang dapat tiba-tiba berubah menjadi beringas dan menakutkan. Bencana memang terjadi secara tiba-tiba dan di luar persangkaan manusia. Ketika bencana datang, sadarlah manusia bahwa mereka makhluk yang lemah, mereka dengan segera menyebut nama Tuhannya sambil memanjatkan doa-doa agar diselamatkan.
Di balik bencana tsunami yang terjadi di Aceh, dan sejumlah kejadian dan cerita yang menakjubkan, betapa Allah SWT berkuasa dan berkehendak atas semua kejadian. Di daerah Meulaboh, di antara puing-puing rumah penduduk yang rata dengan tanah, sebuah mesjid masih berdiri dengan kokoh.  Demikian pula yang terjadi di kota propinsi, komplek Masjid Raya Banda Aceh yang letaknya tidak jauh dari pantai justru luput dari terjangan ombak, bahkan mesjid ini menjadi tempat penduduk berlindung dan mereka selamat. Areal pemakaman para alim ulama dan kelompok ulma-aulia dilaporkan juga terhindar dari luapan air laut. Ada anak-anak bocah yang terampung berhari-hari lamanya di lautan, kemudian ditemukan oleh nelayan dan selamat. Di Srilangka, berdasarkan laporan wartawan, meskipun banyak korban jiwa manusia yang bergelimpangan, tetapi anehnya sangat sedikit dari binatang yang ikut mati.
Tugas manusia adalah mempelajari sedalam-dalamnya dari apa yang terjadi di muka bumi ini, tetapi jangan pernah tanyakan tentang Dzat yang menciptakan hal tersebut, karena akal manusia tidak akan sanggup mempelajarinya. Belajar dari pengalaman bencana kita bisa mengetahui langkah yang cukup bijak untuk menghadapi tsunami., seperti melakukan mitigasi bencana (disaster mitigation/reduction) sehingga risiko bahaya dapat diminimalisasi.




2.     Mengetahui Dampak Bencana Tsunami
Dampak negatif yang diakibatkan tsunami adalah merusak apa saja yang dilaluinya. Bangunan, tumbuh-tumbuhan, dan mengakibatkan korban jiwa manusia serta menyebabkan genangan, pencemaran air asin lahan pertanian, tanah, dan air bersih.
a.         Dampak Kejiwaan
               Bencana gempa dan gelombang tsunami dapat membawa duka yang mendalam bagi siapa saja yang mengalaminya. Hal ini dapat menyebabkan mereka mengalami depresi yang berat dan kondisi mental yang memprihatinkan. Depresi dapat dideteksi dengan melakukan screening atau deteksi awal gangguan kejiwaan. Tingkat depresi para korban tergantung dari stressor yang mereka alami. Semakin berat stressor, maka depresi yang dialami juga semakin berat.
b.        Dampak Sosial
               Adanya suatu bencana, termasuk tsunami, menyebabkan suatu negara mengizinkan masuknya orang atau militer asing untuk melakukan tugas kemanusiaan. Hal ini dapat menyebabkan terjadinya kasus pelecehan seksual yang dilakukan warga negara asing yang sedang melakukan misi kemanusiaan tersebut.
               Kondisi daerah yang terkena bencana tsunami memungkinkan terjadinya berbagai hal, mulai dari tindakan pelecehan hingga praktek prostitusi yang melibatkan orang asing dan para wanita. Terjadinya pelecehan seksual di daerah yang terkena bencana alam disebabkan karena banyak wanita yang trauma dan putus asa akibat bencana alam tersebut, selain faktor biologis manusia.
c.         Dampak Kesehatan
               Walaupun tsunami telah pergi, namun masih ada serangan penyakit akibat kerusakan pasca bencana yang mungkin lebih menyengsarakan bila tidak diantisipasi dengan baik. Bayangkan, beragam kuman dan virus mengintai di balik puing-puing rumah, sekolah, pasar, mayat-mayat bergelimpangan, genangan air kotor, dan sampah.
               Penyakit yang paling banyak diserita korban tsunami adalah pneumonia, yaitu infeksi yang terjadi setelah paru-paru penderita kemasukan cairan secara berlebihan, terutama air laut yang telah bercampur dengan lumpur dan berbagai macam kotoran. Sepertiga dari jumlah penderita penyakit ini adalah anak-anak.
               Selain itu, masih ada 5 penyakit yang tak kalah potensial, yaitu ISPA, diare, campak, demam berdarah, dan malaria. Dari kelima penyakit otu, yang paling banyak diderita adalah ISPA, karena selain korban, para petuga kesehatan juga mudah terserang batuk pilek. Penyebab utama percepatan penularan lima penyakit tersebut adalah karena padatnya tingkat hunian di likasi-lokasi pengungsian, di samping daya tahan tubuh yang terus menurun, kurangnya kebersihan diri, serta lingkungan yang tidak terjaga.
d.        Dampak Fisik
            Tsunami itu dapat membanjiri daratan hingga jauh. Kekuatannya bisa mengangkat tembok-tembok besar, kendaraan, menghancurkan rumah, dan lainnya. Ketika mencapai daratan, tsunami tidak selalu tampak sebagai rangkaian gelombang raksasa. Ia bisa juga terlihat seperti gelombang pasang yang amat cepat. Tsunami dapat juga menyebabkan bencana dalam bentuk banjir bandang pantai, penggaraman tanaman pantai, dan kekurangan air bersih.
               Untuk mengurangi kerusakan dan korban yang ditimbulkan oleh tsunami, maka daerah pesisir pantai perlu mendapatkan perlindungan. Namun perlindungan secara fisik hampir tidak mungkin untuk dilakukan karena akan memerlukan biaya yang sangat besar. Konstruksi pelindung hanya akan berfungsi secara efektif untuk melindungi teluk yang mempunyai mulut tidak terlalu lebar. Konstruksi pelindung harus kuat untuk menerima tekanan gelombang tsunami, disamping cukup tinggi untuk menghindarkan limpasan gelombang.

3.     Menemukan Cara Efektif Mengurangi Dampak Tsunami
Cara yang paling efektif mengurangi dampak bencana tsunami adalah dengan melatih penduduk dalam menghadapi tsunami dan menghindarkan pembangunan konstruksi di daerah yang sering diserang tsunami. Berikut ini tindakan yang perlu dilakukan untuk mengurangi risiko bencana tsunami, yaitu:
a.         Membuat sistem peringatan dini melalui teknologi TEWS dengan rangkaian sistem BUOY.
b.        Relokasi daerah permukiman yang rawan tinggi terhadap ancaman tsunami.
c.         Edukasi kepada masyarakat tentang berbagai hal yang berkaitan dengan tsunami, misalnya tanda-tanda kedatangan tsunami dan cara-cara penyelamatan diri, sehingga masyarakat siap dan tanggap apabila suatu saat tsunami datang secara tiba-tiba.
d.        Membuat jalan atau lintasan untuk menyelamatkan diri dari tsunami.
e.         Menanami daerah pantai dengan tanaman yang secara efektif dapat menyerap energi gelombang (misalnya mangrove).
f.          Membiarkan lapangan terbuka untuk menyerap energi tsunami.
g.         Membuat shelter di daerah yang memungkinkan.

Bagaimana mengatasi kerugian material akibat gempa ini? Seperti kita ketahui gempa selalu (walaupun tidak mutlak) memakan korban jiwa dan material. Untuk mengatasi kerugian material sebenarnya kita bisa membangun rumah anti gempa, Mahal? tentu saja harganya beda dari rumah biasa. Rumah kayu adalah salah satu bangunan yang terbukti paling kuat dan tahan terhadap gempa. Alasannya karena rumah kamu memiliki fondasi yang bisa mengikuti pergerakan tanah. Sebenarnya rumah tembok pun bisa, di Jepang sendiri struktur rumah dan bangunan mereka dibuat agar tahan gempa karena mereka sadar daerah Jepang rawan gempa. Tentunya Indonesia perlu belajar ke Jepang jika ingin mengurangi kerugian material akibat gempa.

4.     Mengetahui Cara Penyelamatan Diri Saat terjadinya Tsunami
      Sebesar apapun bahaya tsunami, gelombang ini tidak datang setiap saat. Janganlah ancaman bencana alam ini mengurangi kenyamanan menikmati pantai dan lautan. Sebelum terjadinya tsunami terdapat tanda-tanda alam yang bisa dilihat oleh orang awam yang berada di sekitar pusat goncangan seismik. Tanda-tanda tersebut antara lain:
*      Cari tahu posisi gempa, jika terjadi dipermukaan laut maka akan lebih berisiko terjadi tsunami.
*      Rasakan kekuatan gempa semakin besar maka kemungkinan terjadi tsunami pun akan semakin besar, Namun ini tidak mutlak.
*      Terjadinya surut air laut pada batas normal yang mendadak setelah gempa. Masyarakat biasanya terjebak karena memperhatikan fenomena tersebut. Jadi fenomena ini harusnya jangan dijadikan alasan untuk menunda penyelamatan diri.
*      Bau asin yang sangat menyengat dari arah pantai
*      Dari kejauhan tampak gelombang putih dan suara gemuruh yang sangat keras.
*      Hewan bertingkah aneh, sebenarnya ini belum terbukti namun banyak yang mengemukakan perihal teori ini.

          Sebagai orang yang beriman dan berilmu pengetahuan, kita harus menyikapi bencana tsunami dengan bijak, salah satunya menggunakan pengetahuan tentang tsunami pada saat bahaya mengancam maupun sesudah terjadinya tsunami.
a.              Yang harus dilakukan pada saat tsunami datang
ü  Jangan panik
ü  Jangan menjadikan gelombang tsunami sebagai tontonan. Apabila gelombang tsunami dapat dilihat, berarti kita berada di kawasan yang berbahaya
ü  Jika air laut surut dari batas normal, tsunami mungkin terjadi
ü  Bergeraklah dengan cepat ke tempat yang lebih tinggi ajaklah keluarga dan orang disekitar turut serta. Tetaplah di tempat yang aman sampai air laut benar-benar surut.
ü  Jika sedang berada di pinggir laut atau dekat sungai, segera berlari sekuat-kuatnya ke tempat yang lebih tinggi. Jika memungkinkan, berlarilah menuju bukit yang terdekat.
ü  Jika situasi memungkinkan, pergilah ke tempat evakuasi yang sudah ditentukan.
ü  Jika situasi tidak memungkinkan untuk melakukan tindakan seperti di atas, carilah bangunan bertingkat yang bertulang baja (ferroconcrete building), gunakan tangga darurat untuk sampai ke lantai yang paling atas (sedikitnya sampai ke lantai 3).
ü  Jika situasi memungkinkan, pakai jaket hujan dan pastikan tangan anda bebas dan tidak membawa apa-apa.
ü  Jika gelombang pertama telah datang dan surut kembali, jangan segera turun ke daerahyang rendah. Biasanya gelombang berikutnya akan menerjang. Jika gelombang telah benar-benar mereda, lakukan pertolongan pertama pada korban.
ü  Jika sedang berada di dalam perahu atau kapal di tengah laut serta mendengar berita daripantai telah terjadi tsunami, jangan mendekat ke pantai, tetapi arahkan perahu ke laut.
b.        Sesudah tsunami
ü  Ketika kembali ke rumah, jangan lupa memeriksa kerabat satu-persatu
ü  Jangan memasuki wilayah yang rusak, kecuali setelah dinyatakan aman
ü  Hindari instalasi listrik
ü  Datangi posko bencana, untuk mendapatkan informasi
ü  Jalinlah komunikasi dan kerja sama dengan warga sekitar.



BAB III
       PENUTUP
A.     Kesimpulan
Ada beberapa hal penting yang dapat disimpulkan dari pembahasan makalah ini, antara lain:
1.         Tsunami adalah perpindahan badan air yang disebabkan oleh perubahan permukaan laut secara vertikal dengan tiba-tiba.
2.         Karakteristik fisika dari gelombang tsunami antara lain:
·           Kecepatan rambat gelombang tsunami tergantung kedalaman pusat gangguan seismik, bisa mencapai 900 km/jam.
·           Tinggi gelombang tsunami bisa mencapai 30 meter.
·           Amplitudo gelombang bisa mencapai 0,5 dari tinggi gelombangnya.
·           Panjang gelombang bisa mencapai 500 km.
·           Perioda bisa mencapai 10 menit sampai 2 jam
3.         Penyebab terjadinya tsunami antara lain: Gempa bumi di dasar laut; tanah longsor di dasar laut; letusan gunung api di dasar laut; dan jatuhnya meteor atau benda kosmis ke dasar laut.
4.         Tsunami Early Warning System (TEWS) atau sistem peringatan dini tsunami adalah sebuah sistem yang dirancang untuk mendeteksi tsunami dan kemudian memberikan peringatan untuk mencegah jatuhnya korban. TEWS menggunakan alat yang disebut “sistem BUOY”. Buoy adalah sebuah alat pendeteksi tsunami (Deep-Ocean Assessment and Reporting of Tsunami/DART).
5.         Manfaat mempelajari seluk beluk tsunami antara lain:
·           Menentukan sikap bijak menghadapi bencana bencana tsunami
·           Menentukan cara efektif mengurangi dampak tsunami
·           Mengetahui cara penyelamatan diri saat terjadi tsunami
·           Mengetahui dampak

B.     Saran
Ada beberapa hal yang dapat penulis sarankan kepada pembaca, umumnya kepada masyarakat mengenai bencana tsunami ini, yaitu:
1.    Sesuai dengan firman Allah dalam Al-quran “ Pelajarilah apa-apa yang terdapat di bumi dan di langit”. Maka dari itu, kita patut mempelajari tentang bencana alam di sekitar kita, diantaranya gempa dan tsunami. Dengan mempelajari tsunami ini dengan baik, kita bisa mengetahui bagaimana tanda-tanda tsunami akan terjadi dan akan lebih siap saat menghadapi terjadinya hal yang tidak di inginkan.
2.    Peringatan dini tsunami yang sudah ada hendaknya benar-benar dihiraukan dan dimanfaatkan dengan semestinya.
3.    Penulis lebih menghimbau agar kita semua lebih mendekatkan diri kepada Tuhan YME. Karena Dia-lah penguasa seluruh jagat raya ini. Atas kehendak-Nya juga seluruh bencana di alam semesta ini dapat terjadi, termasuk tsunami. Semoga kita senantiasa mengingat betapa tak ada artinya kita dibandingkan dengan Kebesaran Allah.
                                                                            

                                      DAFTAR RUJUKAN

Al-Qurannul Karim dan Terjemahannya.
 Ahhira. 2012. Gempa Bumi dan Tsunami. www. Anneahira.com/makalah_
_gempa_bumi_dan_tsunami.htm. Diakses Tanggal 28 November 2012.
 Ahmad. 2011. Tsunami Dalam Al-Quran. www. Arriesfamily.blogspot.com.html. Diakses Tanggal 28 November 2012.
 Anonim. 2012.  Pengertian Tsunami. http://wikipedia.org/wiki/Tsunami. Diakses Tanggal 28 November 2012.
Anonim. 2008. INATEWS. http://www.antara.co.id/-arc/2008/11/11/presiden-yudhoyono-resmikan-peluncuran-inatews/. Diakses Tanggal 2 Desember 2012.
BMKG. 2012. BMKG Berikan Peringatan Dini Tsunami ke 23 Negara. Sains. Kompas.com. Jakarta: Kompas.
Fikrah. 2011. Penyebab Terjadinya Tsunami. http://al-fikrah.net/index.php?name=TsunamiForums&file=viewtopic&p=679570#679570. Diakses Tanggal 2 Desember 2012.
Habibi. 2008. Teknologi Buoy. http://approdite1992.wordpress.com/2008/12/25/tekhnologi-buoy/. Diakses Tanggal 28 November 2012.

Iwan. 2012. Analisis Pasca Bencana Tsunami. ejurnal.bppt.go.id/index.php/article/download/7.12/659. Diakses Tanggal 2 Desember 2012.
 Rachman. 2011. Gempa yang Menyebabkan Tsunami. http://bukasitusmu.blogspot.com. Diakses Tanggal 2 Desember 2012.
 VSI, Departemen Energi dan sumber Daya Mineral. Pengenalan Tsunami. Jakarta: VSI.
 Yudith. 2010. Sistem Peringatan Dini Tsunami.  http://www.faikshare.com/2010/11/sistem-peringatan-dini-tsunami.html. Diakses Tanggal 25 November 2012.
Yusbi. 2009. Jenis dan Proses Terjadinya Gempa. http://idkf.bogor.net/yuesbi/eDU.KU/edukasi.net/Fenomena.Alam/Gempa/hal4.htm. Diakses Tanggal 2 Desember 2012.

1 komentar: