Jumat, 27 Januari 2012

ALAT PENCATAT GEMPA


MAKALAH
MATERI DAN ENERGI
“ALAT PENCATAT GEMPA’’

 





OLEH
SRI WAHYU WIDYANINGSIH
BENNY SAPRIMA
APRINALDI
YOMI RAMADHONA
ELIZABETH SIEN
ZATURRAHMI



PROGRAM STUDI TEKNOLOGI PENDIDIKAN
KONSENTRASI PENDIDIKAN FISIKA
PROGRAM PASCASARJANA
UNIVERSITAS NEGERI PADANG
2011 M/1432 H

ALAT PENCATAT GEMPA
A.    Gempa Bumi
Gempa bumi adalah berguncangnya bumi yang disebabkan oleh tumbukan antar lempengan bumi, patahan aktif, aktivitas gunung api atau runtuhan batuan. Ilmu yang mempelajari gempa bumi, gelombang-gelombang seismik serta perambatannya disebut seismologi.
Kerak bumi selalu bergerak. Pada saat lempengan kerak saling bertemu, terjadilah gaya yang amat besar yang menyebabkan timbulnya tegangan dan energy. Sisi-sisi lempeng bertubrukan, saling menghujang dan kadang-kadang menyebabkan salah satu lempeng terbenam di bawah lempeng yang lain. Lempeng samudra yang rapat massanya lebih besar ketika bertabrakan dengan lempeng benua di zona tubrukan (subduksi) akan menyusup ke bawah.
Gerakan lempeng itu akan mengalami perlambatan akibat gesekan dari selubung bumi. Perlambatan itu menyebabkan penumpukan energy di zona subduksi dan zona patahan. Akibatnya di zona tersebut terjadi tekanan, tarikan dan geseran. Pada saat batas elastisitas lempeng terlampaui, maka terjadi patahan batuan yang diikuti lepasnya energy secara tiba-tiba. Proses ini akan menyebabkan getaran partikel kesegala arah yang disebut gelombang gempa bumi.
Energy yang timbul dari gempabumi disebut gelombang seismic yang menggerakkan batuan. Dari hiposentrum yaitu pusat gempa, gempa bumi akan melepaskan gelombang kesegala arah. Titik dipermukaan bumi yang tepat di atas hiposentrum disebut episentrum. Kerusakan paling parah biasanya terjadi di daerah ini. Sejumlah gelombang seismic merambat ke bawah permukaan bumi, sebagian lagi merambat ke zona yang berdekatan dengan permukaan bumi.
B.     Jenis-jenis Gempa Bumi
1.      Jenis gempa bumi menurut terjadinya
·         Gempa vulkanik
Gempa vulkanik adalah bumi yang disebabkan oleh letusan gunung api.
·         Gempa teknonik
Gempa teknonik adalah gempa yang disebabkan pergeseran lapisan kulit bumi.
·         Gempa runtuhan atau terban
Gempa runtuhan atau terban adalah gempa bumi yang disebabkan oleh tanah longsor, gua-gia yang runtuh, dan sejenisnya.
2.      Jenis gempa bumi menurut kedalaman hiposentrum
·         Gempa dangkal
Gempa dangkal adalah gempa bumi yang kedalamannya hiposentrumnya kurang dari 70 km dari permukaan bumi.
·         Gempa menengah
Gempa menengah adalah gempa bumi yang kedalamannya hiposentrumnya atara 70-300 km dari permukaan bumi.
·         Gempa dalam
Gempa dalam adalah gempa bumi yang kedalamannya hiposentrumnya antara 300-700 km dari permukaan bumi.
3.      Jenis gempa menurut lokasinya
·         Gempa daratan
Gempa daratan adalah gempa bumi yang episentrumnya terletak di daratan.
·         Gempa lautan
Gempa lautan adalah gempa bumi yang episentrumnya terletak di laut.
4.      Jenis gempa menurut kekuatannya
·         Gempa sangat besar, magnitudo > 8 Skala Richter
·         Gempa besar, magnitudo 7-8 Skala Richter
·         Gempa merusak, magnitudo 5-7 Skala Richter
·         Gempa sedang, magnitudo 4-5 Skala Richter
·         Gempa kecil, magnitudo 3-4 Skala Richter
·         Gempa mikro, magnitudo 1-3 Skala Richter
·         Gempa ultramikro, magnitudo < 1 Skala Richter
5.      Jenis gempa menurut intensitasnya,
·         Macroseisme, yaitu gempa yang intensitasnya besar dan dapat diketahui tanpa dengan menggunakan alat.
·         Microseisme, yaitu gempa yang intensitasnya kecil sekali dan hanya dapat diketahui dengan menggunakan alat perekam.
C.    Jenis-jenis Getaran Gelombang Gempa
1.      Gelombang primer (P) yaitu berupa gelombang yang merambat secara longitudinal dengan kecepatan 4-7 km/detik.
2.      Gelombang sekunder (S) yaitu berupa gelombang yang merambat secara transversal  dengan kecepatan 2-5 km/detik.
3.      Gelombang panjang (L) atau gelombang permukaan yaitu getaran gempa yang merambat di permukaan bumi dengan kecepatan rambat lebih rendah.
D.    Alat Pencatat Gempa Bumi
Getaran seismik dapat berupa getaran yang arah gerakannya vertical dan getaran yang arah getarnya horizontal. Untuk mengetahui kekuatan gempa bumi digunakan alat yang disebut seismometer. Seismometer berasal dari bahasa Yunani yaitu seismos berarti gempa bumi dan metero yang berarti mengukur. Seismometer adalah sebuah alat atau sensor getaran, yang biasanya dipergunakan untuk mengetahui kekuatan gempa bumi. Seismometer yang dirangkai dengan alat yang mencatat parameter gempa disebut seismograf. Hasil rekaman dari alat ini disebut seismogram.
Rekaman ini dapat dipergunakan salah satunya untuk menentukan magnitudo gempa tersebut. Selain itu dari beberapa seismogram yang direkam ditempat lain, dapat menentukan pusat gempa atau posisi dimana gempa tersebut terjadi.
Dengan perkembangan teknologi dewasa ini maka kemampuan seismometer dapat ditingkatkan, sehingga bisa merekam getaran dalam jangkauan frekuensi yang cukup lebar. Alat seperti ini disebut seismometer broadband.
E.     Sejarah Seismometer
Prototip dari alat ini diperkenalkan pertama kali di China pada abad ke 2 pada tahun 132 SM oleh matematikawan dari Dinasti Han yang bernama Chang Heng. Dengan alat ini orang pada masa tersebut bisa menentukan dari arah mana gempa bumi terjadi. Kemudian John Milne menemukan horizontal pendulum seismograf di Imperial of Engineering (Jepang) pada tahun 1880.
 









Pada pertengahan abad ke-18, gempa bumi diukur dengan instrumen yang bernama seismokop. Seismokop adalah peralatan perekam gempa yang paling primitif. Seismokop terdiri dari sebuah kontainer sederhana berisi air atau air raksa. Ketika terjadi gempa, cairan tersebut akan bergerak naik-turun akibat getaran gempa yang terjadi.
Terobosan besar untuk pengukuran gempa bumi datang pada tahun 1920, ketika dua ilmuwan Amerika mengembangkan alat yang disebut Wood-Anderson seismograf. Alat ini lebih sensitif dibandingkan seismograf yang ada pada masa itu, sehingga langsung banyak digunakan di seluruh dunia dan menjadi cikal bakal seismograf yang sekarang ada dan berkembang. Saat ini, seismograf banyak digunakan oleh Seismologist dalam mempelajari sesar dan gempa bumi.
F.     Bagian-bagian pokok seismograph
 










Seismograph adalah alat yang dapat mencatat gerakan tanah secara terus menerus.   Bagian penting dari sebuah seismograph yang beroperasi dan sampai menghasilkan catatan (seismogram) sebenarnya terdiri dari   :
1.      Seismometer
Yaitu alat yang merubah energi gerak (mekanik) menjadi energi listrik.  Bagian ini sering kita sebut sensor atau tranduser.
2.      Amplifier/penguat
Yaitu alat yang dapat memperbesar daya masukan (input) sehingga menghasilkan daya keluaran (output) yang besarnya sesuai dengan pembesaran yang di inginkan.
3.      Jam
Merupakan bagian yang memberi tanda waktu untuk setiap catatan,  disamping itu juga mengendalikan frekuensi pencatatan alat dalam hal ini kecepatan motor penggerak drum yang terdapat pada bagian recoder.
4.      Radio
Yaitu pesawat penerima siaran tanda waktu yang di siarkan  oleh radio-radio khusus yang menyiarkan tanda waktu (Inggris, Australia, Jepang) yang digunakan untuk mengoreksi keadaan jam agar selalu sama dengan jam acuan yang dipakai secara international yaitu G.M.T ( Greenwich Mean Time).
5.      Rekoder/pencatat
Rekoder terdiri dari dua komponen yaitu  :
·         PMA  (Pen Motor Aplifier) :   yaitu bagian/alat yang merubah energy listrik menjadi energi gerak.
·         Drum :  yaitu tempat catatan seismogram di pasang.
6.      Power Supply.
Yaitu sumber tegangan DC dari setiap bagian rangkaian pada seismograph,  untuk SPS-1 kenimetriks.
G.    Prinsip kerja Seismograf
Ketika terjadi gempa, getaran gempa yang terekam adalah gelombang primer karena kecepatan rambatnya paling tinggi, lalu diikuti oleh rekaman gelombang sekunder yang memiliki kecepatan rambat lebih rendah dari gelombang primer. Gelombang permukaan datang paling akhir karena memiliki kecepatan rambat paling rendah. Seismograf mencatat semua getaran dan kecepatan rambat gempa bumi dalam bentuk seismogram.
Seismograf memiliki instrumen sensitif yang dapat mendeteksi gelombang seismik yang dihasilkan oleh gempa bumi. Gelombang seismik yang terjadi selama gempa tergambar sebagai garis bergelombang pada seismogram. Seismologist mengukur garis-garis ini dan menghitung besaran gempa.
Umumnya, sebuah seismometer terdiri dari massa yang melekat pada dasar yang tetap. Selama gempa bumi, basis/dasar bergerak dan massa tidak. Gerakan basis terhadap massa diubah menjadi tegangan listrik. Tegangan listrik dicatat/direkam di atas kertas, pita magnetik, atau media rekaman lain. Rekaman ini berbanding lurus dengan gerakan massa Seismometer relatif terhadap bumi, tetapi bisa dikonversikan secara matematis kedalam rekaman dari pergerakan mutlak tanah/bumi. Seismograf umumnya merupakan sebuah seismometer dengan alat perekamnya sebagai satu unit alat.
Pada prinsipnya, seismograf terdiri dari gantungan pemberat dan ujung lancip seperti pensil. Dengan begitu, dapat diketahui kekuatan dan arah gempa lewat gambaran gerakan bumi yang dicatat dalam bentuk seismogram.
Ada dua macam seismograf :
1.      Seismograf  Horizontal
Seismograf horizontal, yaitu seismograf yang mencatat getaran bumi pada arah horizontal. Seismometer ini menggunakan pendulum. Ketika terjadi getaran yang arah geraknya horizontal, maka bola pendulum akan bergerak kesamping dan dibagian bawahnya ada alat seperti pena untuk menggambarkan grafik getaran yang terjadi pada sebuah kertas. Akan tetapi penggunaan pendulum yang sederhana ini belum dapat untuk merekam dengan bagus getaran dengan frekwensi rendah. Untuk mengatasinya, digunakan inverted pendulum yang terdapat pegas pada kedua sisi bola pendulum. Sehingga ketika bergetar, maka salah satu pegas akan meredam getaran dan pegas yang lain memberikan tambahan gaya kepada pendulum yang berakibat pendulum dapat berosilasi dengan frekwensi yang kecil sehingga getaran berfrekwensi rendah tersebut akan dapat direkam pada kertas.
Dahulu, seismograf hanya dapat mendeteksi gerakan horizontal, tetapi saat ini seismograf sudah dapat merekam gerakan-gerakan vertikal dan lateral. Seismograf menggunakan dua gerakan mekanik dan elektromagnetik seismographer. Kedua jenis gerakan mekanikal tersebut dapat mendeteksi baik gerakan vertikal maupun gerakan horizontal tergantung dari pendular yang digunakan apakah vertikal atau horizontal.
 







2.      Seismometer Vertical
Seismograf vertical, yaitu seismograf yang mencatat getaran bumi pada arah vertical. Seismometer ini menggunakan sebuah beban, pegas dan sebuah pena. Beban digantungkan pada sebuah pegas dengan ujung pegas yang lain tergantung pada sebuah tempat. Ketika terjadi getaran atau gempa, maka pegas akan segera meregang atau memendek dan beban akan bergerak karena mempertahankan keadaan inersia/kelebaman akibat bergerak pegas tersebut. Dibagian bawahnya ada alat seperti pena untuk menggambarkan grafik getaran yang terjadi pada sebuah kertas.
Seismograf modern menggunakan elektromagnetik seismographer untuk memindahkan volatilitas sistem kawat tarik ke suatu daerah magnetis. Peristiwa-peristiwa yang menimbulkan getaran kemudian dideteksi melalui spejlgalvanometer. Pada perangkat pendeteksi getaran modern menggunakan sensor elektronik, amplifier, dan perangkat untuk merekam data yang didapat. Seismometer modern terdiri dari sebuah pegas, sebuah bebanyang pada bagian luarnya dililit kumparan, rangkaian amplifier dan perangkat untuk melihat grafik yang dihasilkan (seperti osiloskop). Prinsip kerjanya ketika getaran terjadi makan beban akan bergerak, akibat gerakan tersebut akan terjadi perubahan fluks magnet yang dihasilakan arus melalui kumparan untuk menuju ke amplifier. Oleh amplifier sinyal yang dihasilkan akan diperkurat dan akan direkam pada sebuah alat seperti osiloskop.

H.    Membaca Seismogram

Hasil catatan seismograf disebut seismogram. Bila terjadi gempa, getaran seismic pertama yang ditangkap adalah gelombang primer (P) karena kecepatan rambatnya lebih tinggi. Beberapa saat kemudian datang gelombang sekunder (S) yang memiliki kecepatan rambat lebih rendah dan yang terakhir adalah gelombang pangjang (L) atau gelombang permukaan karena kecepatan rambatnya paling rendah. Pada seismogram, ketiga getaran ini dapat dibedakan dengan mudah karena ketiganya memiliki ciri atau karakteristik yang berlainan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

     Pada seismogram, gelombang primer (P) tercatat pada fase pertama dan selang beberapa waktu kemudian datang gelombang fase ke dua, yaitu gelombang sekunder (S). selisih waktu pencatatan gelombang primer dan sekunder tersebut dapat digunakan untuk menghitung jarak episentrum. Dengan diketahuinya jarak episentrum dari beberapa stasiun pencatat gempa (minimal 3 stasiun) dapat digunakan untuk menentukan lokasi episentrum. Beberapa cara untuk mengetahui lokasi episentrum adalah:

1.      Dengan menggunakan hasil pencatatan seismograf. Yaitu satu seismograf vertical, satu horizontal yang berarah utara-selatan, dan satu lagi seismograf yang berarah timur-barat. Dengan tiga seismograf ini akan ditemukan letak episentrum.
2.      Dengan menggunakan tiga tempat yang terletak dalam satu homoseista. Ketiga tempat yang terletak dalam satu homosesita itu dihubungkan, kemudian ditarik garis sumbu pada garis yang menghubungkan tempat-tempat pencatatan.
3.      Dengan menggunakan tiga tempat yang mencatat jarak episentrum. Cara ini dicari dengan rumus Laska, yaitu:
Jarak episentrum dengan stasiun pencatat gempa = [(S-P)-1] X 1 megameter
S-P = selisih waktu pencatatan gelombang primer dengan gelombang sekunder, dalam satuan menit.
Misalnya :
Kota X mencatat jarak episentrum 5000 km
Kota Y mencatat jarak episentrum 7000 km
Kota Z mencatat jarak episentrum 4000 km
Dengan data tiga episentrum di tiga kota, kemudian kita ambil peta yang sesuai skalanya. Letak apisentrum akan didapat dari perpotongan ketiga lingkaran.

I.       Klasifikasi Pengukuran Gempa

Ketika terjadi gempa, getaran gempa yang terekam adalah gelombang primer karena kecepatan rambatnya paling tinggi, lalu diikuti oleh rekaman gelombang sekunder yang memiliki kecepatan rambat lebih rendah dari gelombang primer. Gelombang permukaan datang paling akhir karena memiliki kecepatan rambat paling rendah. Seismograf mencatat semua getaran dan kecepatan rambat gempa bumi dalam bentuk seismogram.
Seismograf menggunakan dua klasifikasi yang berbeda untuk mengukur gelombang seismik yang dihasilkan gempa, yaitu besaran gempa (Magnitude) dan intensitas gempa (Intencity).  Kedua klasifikasi pengukuran ini menggunakan skala pengukuran yang berbeda pula. Ada beberapa skala yang digunakan untuk mengukur kekuatan gempa bumi. Skala Mercalli, Omori, Cancani, dan skala Richter. Berdasarkan skala-skala ini orang dapat mengenali kekuatan gempa yang pada akhirnya berguna untuk mengantisipasinya seperti desain konstruksi bangunan dan jalan raya. Skala Richter digunakan untuk menggambarkan besaran gempa sedangkan Skala Mercalli digunakan untuk menunjukkan intensitas gempa, atau pengaruh gempa terhadap tanah, gedung, dan manusia.

1.      Klasifikasi Besaran Gempa Menggunakan Skala Richter

Pada 1935, seorang Geophysics Amerika bernama Charles Francis Richter (1900-1985) bersama dengan Geophysics lain bernama Beno Gutenberg (1889-1960) mengembangkan skala yang pada prinsipnya dapat membandingkan semua seismogram sehingga mendapatkan gambaran tremors kekuatan yang serupa. Skala tersebut bernama Skala Richter dan sampai sekarang diakui sebagai standar umum skala kekuatan gempa. Skala Richter untuk mengukur kekuatan gempa bumi yang disebut dengan magnitude (M).
Skala Richter dirancang dengan logaritma, yang berarti bahwa setiap langkah menunjukkan kekuatan yang 10 kali lebih hebat dari para pendahulunya. 5 Skala Richter menunjukkan benturan keras, yang 10 kali lebih kuat dari 4 Skala Richter dan 100 kali lebih kuat dari 3 Skala Richter. Perhitungan ini sering disebut sebagai Skala Richter terbuka, karena tidak beroperasi tanpa batas atas. Ukuran Skala Richter dapat dilihat pada tabel berikut:

Ukuran Skala Richter
Keterangan
1,0 - 3,0
Tidak diberi label oleh manusia.
3,0 - 3,9
Dirasakan oleh masyarakat di sekitar pusat gempa. Lampu gantung mulai goyang.
4,0 - 4,9
Terasa sekali getarannya. Jendela bergetar, permukaan air beriak-riak, daun pintu terbuka-tutup sendiri.
5,0 - 5,9
Sangat sulit untuk berdiri tegak. Porselin dan kaca pecah, dinding yang lemah runtuh, dan permukaan air di daratan terbentuk gelombang air.
6,0 - 6,9
Batu runtuh bersama-sama, runtuhnya bangunan bertingkat tinggi, rubuhnya bangunan lemah, retakkan di dalam tanah. Dapat menimbulkan kerusakan pada fisik dan menimbulkan korban jiwa manusia pada radius sampai 100 kilometer.
7,0 - 7,9
Pada skala ini termasuk gempa bumi besar. Dapat menyebabkan kerusakan serius pada daerah yang lebih luas. Tanah longsor, jembatan roboh, bendungan rusak dan hancur. Beberapa bangunan tetap, keretakan besar di tanah, rel kereta api rusak. Terjadi kerusakan total di daerah gempa.
8,0 - …
Gempa bumi besar. Dapat menyebabkan kerusakan serius di beberapa daerah dalam radius seratus kilometer dari wilayah gempa.

2.      Klasifikasi Intensitas Gempa Menggunakan Skala Mercalli

Sebelum ditemukannya alat-alat pencatat getaran gempa, satu-satunya cara untuk mengukur besarnya gempa adalah dengan jalan pengamatan langsung oleh manusia. Untuk memudahkan pengamatan tersebut, dibuatlah daftar-daftar yang mengklasifikasikan besarnya gempa, berdasarkan derajat kerusakan yang ditimbulkan oleh gempa terhadap bangunan-bangunan. Skala daftar derajat kerusakan ini dinyatakan dalam angka Romawi (I, II, III, ….). Skala ini pada umumnya digunakan untuk pengamatan oleh orang-orang yang sudah berpengalaman untuk memperkirakan tingkat intensitas suatu gempa.
Derajat kerusakan akibat gempa yang sama dengan ukuran yang terdapat dalam daftar yang dipakai untuk menyatakan intensitas suatu gempa. Intensitas yang dilaporkan untuk suatu gempa adalah intensitas maksimum yang disebabkan oleh aktivitas gempa pada suatu lokasi. Intensitas ini sering juga disebut sebagai intensitas lokal. Intensitas lokal berhubungan langsung dengan percepatan tanah maksimum yang terjadi akibat gempa. Dengan demikian intensitas lokal gempa akan berhubungan pula dengan besar kecilnya kerusakan yang terjadi pada bangunan-bangunan disuatu lokasi.
Daftar skala intensitas, pertama kali dikembangkan oleh Rossi dari Italia dan Forrel dari Swiss. Skala ini, merujuk pada nilai I sampai X, yang untuk pertama kalinya digunakan untuk melaporkan gempa San Fransisco yang terjadi pada tahun 1906. Pada tahun 1902 seorang seimolog dan vulkanolog dari Italia bernama Giuseppe Mercalli (1850-1914) mengusulkan skala intensitas dari I sampai dengan XII.  Ia mengklasifikasi skala intensitas gempa bumi dan pengaruhnya terhadap manusia, bangunan (gedung), dan alam (tanah). Klasifikasi tersebut bernama Skala Mercalli yang ditentukan berdasarkan kerusakan akibat gempa dan wawancara kepada para korban, sehingga bersifat sangat subyektif. Pada tahun 1931, Harry O. Wood dan Frank Neumann memodifikasi skala Mercalli ini, dan disebut skala Modified Mercalli Intensity (MMI Scale) untuk mengukur intensitas gempa yang terjadi di California, Amerika.
Skala MMI mempunyai 12 tingkatan intesitas gempa (I s/d XII). Setiap tingkatan intensitas didefinisikan berdasarkan pengaruh gempa yang didapat dari pengamatan, seperti goncangan tanah, dan kerusakan dari struktur bangunan seperti gedung, jalan, dan jembatan. Tingkat intensitas I sampai VI, digunakan untuk mendeskripsikan apa yang dilihat dan dirasakan orang selama terjadinya gempa ringan dan gempa sedang. Sedangkan tingkat intensitas VII sampai dengan XII digunakan untuk mendeskripsikan kerusakan pada struktur bangunan selama terjadinya gempa kuat. Klasifikasi intensitas gempa dengan Skala Mercalli dapat dilihat di tabel berikut :
Tabel 1. Skala Intensitas Modified Mercalli (MMI Scale)
Ukuran
Keterangan
I
Tidak terasa oleh manusia, direkam hanya oleh seismograf.
II
Getaran hanya dirasakan oleh masyarakat di sekitar pusat gempa.
III
Getaran dirasakan oleh beberapa orang. Benda-benda yang bergantung benggoyang dan bergetar ringan.
IV
Getaran akan dirasakan oleh banyak orang seperti truk lewat. Porselin dan barang pecah belah berkerincing dan pintu berderak.
V
Binatang merasa kesulitan dan ketakutan. Bangunan mulai bergoyang. Banyak orang akan bangun dari tidurnya. Getaran terasa oleh orang di luar gedung. Benda-benda tidak stabil di atas meja. Pintu bergerak tertutup dan terbuka.
VI
Benda-benda mulai berjatuhan dari rak, getaran dirasakan oleh semua orang banyak orang takut dan keluar rumah, berjalan kaki sulit, kaca jendela pecah, meja dan kursi bergerak.
VII
Banyak orang cemas, keretakan pada dinding dan jalan, sulit berdiri, getaran terasa oleh pengendara mobil dan motor, genteng di atap terlepas.
VIII
Pergeseran barang-barang dirumah, pengemudi mobil terganggu, tembok bangunan retak.
IX
Kepanikan meluas, tanah longsor, banyak atap dan dinding yang roboh pipa dalam tanah putus.
X
Banyak bangunan rusak, lebar keretakan di dalam tanah mencapai hingga 1 meter. Sebagian konstruksi portal dan temboknya rusak beserta pondasinya. Tanggul dan bendungan rusak berat. Rel kereta api bengkok sedikit. Banyak terjadi tanah lonsor.
XI
Keretakan dalam tanah makin melebar, banyak tanah longsor dan batu yang jatuh. Rel kereta api rusak berat. Pipa-pipa di dalam tanah rusak.
XII
Hampir sebagian besar bangunan hancur (rusak total), permukaan tanah perubahan menjadi radikal. Barang-banrang terlempar ke udara.

Di dunia, setiap tahunnya terjadi rata-rata satu gempa dengan tingkat intensitas X sampai XII, 10 sampai 20 gempa dengan intensitas VII sampai IX, dan lebih dari 500 gempa dengan intensitas I sampai VI. Setiap tahun terjadi hampir 100000 gempa tetapi tidak dicatat manusia, oleh karena itu gempa-gempa ini tidak diklasifikasikan di dalam skala MMI. Gempa dengan intensitas II dan III pada skala MMI dapat dianggap setara dengan gempa dengan magnitude M=3 sampai M=4 pada Skala Richter. Gempa dengan intensitas XI dan III pada skala MMI dapat dianggap setara dengan gempa dengan magnitude M=8 sampai M=9 pada Skala Richter.
Hal-hal yang dapat menyebabkan banyaknya kerusakan dari bangunan pada saat terjadi gempa adalah, desain dari konstruksi bangunan, jarak lokasi bangunan dari pusat gempa, dan kondisi lapisan permukaan tanah dimana bangunan tersebut didirikan. Desain dari konstruksi bangunan yang berbeda, akan memiliki daya tahan terhadap gempa yang berbeda pula, serta semakin jauh lokasi bangunan dari pusat gempa, semakin sedikit kerusakan yang akan terjadi. Demikian juga pengaruh dari kondisi tanah dasar dimana bangunan didirikan, akan menyebabkan perbedaan pada tingkat kerusakan yang dapat terjadi. Pada lokasi dimana lapisannya merupakan tanah lunak, gempa akan menyebabkan bangunan bergoncang lebih keras dibandingkan jika lapisan tanahnya merupakan tanah lunak. Bangunan-bangunan yang didirikan di atas lapisan tanah lunak akan mengalami kerusakan yang lebih parah dibandingkan dengan bangunan-bangunan yang didirikan di atas lapisan tanah keras.
Dari penjelasan mengenai tingkat kerusakan bangunan yang dapat terjadi akibat gempa, terlihat bahwa penentuan dari nilai Skala Mercalli sangat bersifat subjektif karena beberapa hal sebagai berikut:
1.      Tergantung pada jarak epicenter sampai tempat yang dimaksud.
2.      Keadaan geologi setempat.
3.      Kualitas dari bangunan-bangunan setempat di lokasi terjadinya gempa.
4.      Pengamatan manusia sangat dipengaruhi oleh keadaan panik akibat kekacauan yang biasanya terjadi pada saat gempa,
Skala Mercalli tidak dapat digunakan secara ilmiah seperti Skala Richter. Karena skala ini bersifat subjektif, maka untuk suatu kerusakan yang diakibatkan oleh gempa, pengamatan yang dilakukan oleh beberapa orang akan mempunyai pendapat yang berbeda mengenai tingkat kerusakan yang terjadi.

J.      Alarm gempa

Alarm ini berfungsi untuk memberikan peringatan adanya getaran (gempa) bumi. Cara kerjanya yaitu dengan mendeteksi kedatangan gelombang seismik P-Wave sebelum kedatangan S-Wave dan Surface Wave (Q-Wave dan R-Wave) di mana gelombang tersebut bersifat berbahaya dan merusak. Sistem alarm dengan speaker otomatis yang bersuara sangat nyaring mampu membangunkan orang yang sedang tidur sehingga dapat segera menyelamatkan diri.























DAFTAR PUSTAKA

Yeti Nuryantini, Ade. 2007. Gempa Bumi, Bandung: Karya Putra Darwati.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

.>